Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih
Embun pagi merayap di kaca jendela, serupa kabut yang menyelimuti kehidupan Lin Wei. Ia, streamer musik dengan suara merdu yang mampu menjerat ribuan hati, hidup dalam kepalsuan. Senyumnya di depan kamera adalah topeng, air matanya di balik layar adalah kebenaran.
Di sisi lain kota, terbaring Sun Hao, seorang penulis muda dengan tatapan setajam belati. Ia hidup dengan satu tujuan: mengungkap kebenaran di balik kematian kakaknya, Sun Mei. Satu-satunya petunjuknya adalah nama yang terucap lirih saat streaming terakhir kakaknya sebelum tragedi itu: Lin Wei.
Sun Hao memulai perjalanannya dengan menyamar sebagai penggemar Lin Wei. Ia memasuki dunia gemerlap dengan jutaan pujian palsu, aroma parfum mahal, dan senyum manis yang menusuk. Ia menjadi bagian dari lingkaran Lin Wei, mengamati setiap gerak-geriknya, setiap ucapan, setiap hembusan napas.
Lin Wei, di sisi lain, merasakan sesuatu yang aneh pada Sun Hao. Tatapannya berbeda, terlalu intens, terlalu menyelidik. Namun, ia terlambat menyadari bahwa Sun Hao adalah badai yang akan menghancurkan istana pasir kepalsuannya.
"Suaramu indah, Lin Wei," ucap Sun Hao suatu malam, diiringi alunan piano lembut. "Tapi hatimu...hatimu menyimpan rahasia yang lebih kelam dari malam."
Lin Wei tersentak. Kalimat itu bagai belati yang mengiris luka lamanya. Ia mencoba menghindar, mencoba menutupi kebohongan dengan tawa palsu dan rayuan gombal. Namun, Sun Hao tidak menyerah. Ia menggali, menggali, dan menggali, hingga menemukan inti kebenaran yang selama ini terkubur.
Ternyata, Lin Wei adalah saksi mata kematian Sun Mei. Ia melihat semuanya, mendengar semuanya, tetapi memilih diam, memilih melindungi dirinya sendiri. Rasa bersalah menghantuinya setiap malam, menjelma menjadi lagu-lagu sedih yang ia nyanyikan untuk menghibur orang lain, padahal hatinya sendiri hancur berkeping-keping.
PUNCAK tragedi itu terjadi saat streaming langsung. Sun Hao, dengan suara dingin dan datar, membongkar semua kebohongan Lin Wei di depan ribuan penggemar. Ia memutar rekaman suara Sun Mei sebelum kematiannya, yang dengan jelas menyebut nama Lin Wei.
Dunia Lin Wei runtuh. Penggemarnya berbalik, menghujatnya, membencinya. Reputasinya hancur, kariernya tamat. Ia ditinggalkan sendirian dalam puing-puing kebohongannya.
Sun Hao menatap Lin Wei dengan tatapan tanpa emosi. "Ini balas dendam untuk kakakku," bisiknya. "Balas dendam yang tenang, namun menghancurkan."
Balas dendam Sun Hao bukanlah teriakan marah atau pukulan keras. Melainkan sebuah senyuman yang menyimpan perpisahan, sebuah keheningan yang lebih menyakitkan dari ribuan kata. Ia membiarkan Lin Wei hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan, hukuman yang jauh lebih berat dari kematian.
Beberapa bulan kemudian, Lin Wei menghilang tanpa jejak. Orang-orang hanya menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan yang berbunyi: "Mungkin, kebenaran memang lebih pahit dari racun."
Lalu, siapakah yang sebenarnya lebih menderita, sang pendendam atau sang pendusta?
You Might Also Like: Distributor Skincare Bisnis Rumahan