Aku Mencintaimu Tanpa Izin, dan Menyesal Tanpa Akhir Hujan gerimis menyelimuti kota Beijing. Di balik jendela kaca apartemenku, lampu-lamp...

Cerita Populer: Aku Mencintaimu Tanpa Izin, Dan Menyesal Tanpa Akhir Cerita Populer: Aku Mencintaimu Tanpa Izin, Dan Menyesal Tanpa Akhir

Aku Mencintaimu Tanpa Izin, dan Menyesal Tanpa Akhir

Hujan gerimis menyelimuti kota Beijing. Di balik jendela kaca apartemenku, lampu-lampu kota tampak bagai kunang-kunang yang berduka. Alunan guqin dari playlist kesukaanku semakin menusuk kalbu. Lagu itu, persis seperti perasaanku: lirih, pedih, dan penuh penyesalan.

Dulu, aku, Lin Wei, adalah putri tunggal keluarga Lin yang kaya raya. Hidupku dipenuhi kemewahan, namun hatiku kosong. Hingga aku bertemu dengannya, Zhang Hao. Senyumnya hangat, tatapannya teduh. Aku jatuh cinta TANPA IZIN. Aku rela melakukan apa saja untuknya, termasuk mengabaikan peringatan ayahku.

Ayahku selalu berkata, "Zhang Hao bukan orang yang tepat untukmu, Wei'er. Dia punya sesuatu yang disembunyikan."

Aku membantah. Aku buta. Aku percaya cintaku akan mengubah segalanya.

Lalu, pernikahan itu terjadi. Pesta mewah. Gaun pengantin impian. Namun, kebahagiaan itu sementara.

Aku mulai melihat retakan. Senyum Zhang Hao semakin jarang. Tatapannya semakin dingin. Dia sering menghilang tanpa kabar, kembali dengan aroma parfum asing yang menusuk hidung.

Aku tahu. Aku tahu dia mengkhianatiku.

Tapi aku diam. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku menyimpan rahasia. Sebuah rahasia yang bisa menghancurkan segalanya, termasuk keluarga Lin. Rahasia tentang perjanjian bisnis ayahku yang gelap, yang melibatkan Zhang Hao dan keluarga Zhang.

Dan inilah misterinya: mengapa Zhang Hao memilihku? Mengapa dia, pewaris Grup Zhang yang kaya raya, mau menikahi seorang wanita yang menyimpan rahasia kelam keluarganya?

Aku tahu, pernikahan ini adalah sandiwara. Tapi aku tidak tahu apa peran yang harus kumainkan.

Waktu terus berjalan. Setiap hari terasa seperti siksaan. Aku melihat Zhang Hao semakin jauh dariku, semakin dekat dengan wanita lain. Aku mendengar bisikan-bisikan tentang perselingkuhannya di antara para pelayan. Aku merasakan sakit yang tak tertahankan.

Namun, aku tetap diam. Aku menelan semua kepedihan itu dalam-dalam. Aku menunggu.

Kemudian, tiba saatnya. Ayahku meninggal dunia. Perusahaan keluarga Lin dilanda krisis. Aku tahu, inilah saatnya Zhang Hao menunjukkan kartu trufnya.

Dia datang menemuiku malam itu. Matanya dingin, tanpa emosi. Dia mengaku, dia menikahi aku hanya untuk mendapatkan informasi tentang bisnis ilegal ayahku. Dia ingin menghancurkan keluarga Lin, sebagai balas dendam atas masa lalunya.

Aku tersenyum pahit. "Aku tahu."

Dia terkejut. "Kau tahu?"

"Ya. Sejak awal. Aku tahu ayahmu, Zhang Xiong, adalah korban dari penipuan ayahku. Aku tahu kau ingin membalas dendam."

Wajah Zhang Hao pucat pasi. Dia tidak menyangka aku tahu segalanya.

"Lalu, kenapa kau diam?"

Aku menatapnya dalam-dalam. "Karena aku mencintaimu. Aku berharap cintaku bisa mengubahmu. Tapi ternyata, aku salah."

Aku menyerahkan semua bukti kejahatan ayahku kepada pihak berwenang. Aku rela kehilangan segalanya, asalkan keadilan ditegakkan.

Zhang Hao ditangkap. Keluarga Zhang hancur. Aku kehilangan segalanya: cinta, keluarga, harta.

Tapi aku tidak menyesal. Aku lebih baik kehilangan segalanya daripada hidup dalam kebohongan.

Beberapa tahun kemudian, aku mendengar kabar tentang Zhang Hao. Dia dipenjara, hidupnya hancur berantakan.

Aku tidak merasa senang. Aku hanya merasa kosong.

Kini, aku hidup sederhana di sebuah desa kecil. Aku melukis, bermain guqin, dan menikmati kedamaian. Kadang-kadang, aku masih memikirkan Zhang Hao. Aku bertanya-tanya, apakah dia menyesal?

Misteri tentang mengapa Zhang Hao memilihku akhirnya terpecahkan. Dia tidak hanya ingin balas dendam. Dia juga mencintaiku. Dia mencintaiku, namun dendamnya lebih besar dari cintanya.

Aku mencintainya tanpa izin, dan menyesal tanpa akhir. Takdir memang berbalik arah, pahit namun indah. Aku membiarkan balas dendam hadir tanpa kekerasan.

Dan inilah akhirnya: takdir telah menghukumnya, dan juga menghukumku, dengan cara yang paling menyakitkan. Aku tahu satu hal, cintaku padanya bagaikan sungai yang tak pernah berhenti mengalir, bahkan setelah banjir bandang melanda...

You Might Also Like: Agen Kosmetik Jualan Online Mudah Di

Dulu, aku menatap langit bersamamu. Di bawah naungan pohon maple yang meranggas, kau berjanji padaku, "Bintang-bintang itu saksi, Ail...

Cerpen: Aku Mencari Wajahmu Di Antara Bintang, Tapi Semua Bintang Berbohong Cerpen: Aku Mencari Wajahmu Di Antara Bintang, Tapi Semua Bintang Berbohong

Dulu, aku menatap langit bersamamu. Di bawah naungan pohon maple yang meranggas, kau berjanji padaku, "Bintang-bintang itu saksi, Aileen. Selamanya." Kata-kata itu terukir di hatiku, seindah ukiran nama kita di batang pohon yang sama. Namun, pohon itu kini mati, dan bintang-bintang itu… mereka semua PEMBOHONG!

Kau pergi. Meninggalkanku terdampar di lautan sunyi, hanya ditemani bayangan janji yang kau ingkari. Kau memilih kemewahan, kekuasaan, dan seorang wanita dengan nama besar, meninggalkan aku, Aileen, gadis desa yang mencintaimu dengan segenap jiwa.

Lima tahun berlalu. Aku bukan lagi Aileen yang dulu. Luka itu telah memolesku menjadi permata yang lebih keras, lebih berkilau, dan lebih… MEMATIKAN. Aku kembali, bukan untuk memohon, bukan untuk meratapi takdir, tapi untuk menyaksikanmu runtuh.

Malam ini, di pesta dansa megah yang kau gelar, mata kita bertemu. Ada sekelebat penyesalan di matamu, Kai. Sayang sekali, penyesalan itu datang terlambat.

"Aileen…" bisikmu, suaramu tercekat di tenggorokan.

Aku tersenyum manis, senyum yang telah kulatih di depan cermin selama ribuan malam. "Senang bertemu lagi, Kai. Atau haruskah aku memanggilmu Tuan Muda Li?"

Kau terdiam. Raut wajahmu pucat pasi, seolah melihat hantu. Hantu dari masa lalu yang kau coba kubur dalam-dalam.

Kemudian, musik berhenti. Lampu redup. Seorang pria dari departemen investigasi berdiri di tengah kerumunan, mengumumkan temuan mengejutkan: "Saudara perempuan Tuan Li, ditemukan melakukan penggelapan dana perusahaan selama bertahun-tahun. Semua aset Tuan Li akan dibekukan untuk penyelidikan lebih lanjut."

Kau menoleh padaku, mata berkilat marah dan putus asa. Kau tahu, kan? Kau tahu aku ada di balik semua ini.

Aku hanya mengangkat gelas sampanyeku, menatapmu lurus-lurus. "Takdir kadang lucu, bukan, Kai?"

Kau akan merasakan kehancuran yang kurasakan dulu, kehilangan yang menghantuimu setiap malam. Aku tidak melakukan apa pun. Biarkan saja sistem yang 'berperan'. Biarkan takdir yang menuntaskan keadilan.

Keadilan atau balas dendam? Mungkin, keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama, dan aku akan terus memutarnya sampai aku tahu apakah aku masih mencintaimu atau membencimu... atau keduanya.

You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Memelihara Ikan Badut

Aula Emas Istana Purnama bagaikan mulut naga yang menganga. Cahaya mentari senja menari-nari di atas pilar-pilar berlapis emas, memantulkan...

Drama Seru: Janji Yang Kumasak Dalam Api Dendam Drama Seru: Janji Yang Kumasak Dalam Api Dendam

Aula Emas Istana Purnama bagaikan mulut naga yang menganga. Cahaya mentari senja menari-nari di atas pilar-pilar berlapis emas, memantulkan kemewahan yang MENYESAKKAN. Namun, di balik kemegahan itu, aroma pengkhianatan menguar pekat. Tatapan para pejabat, setajam belati terhunus, mengawasi setiap gerak-gerik. Bisikan-bisikan halus, bagai desiran angin malam, membawa rahasia kelam di balik tirai sutra yang menjuntai anggun.

Di tengah pusaran intrik istana, terjalinlah benang merah takdir antara Putri Meng Xiaoyu dan Jenderal Wei Jun. Xiaoyu, dengan senyumnya yang mampu meluluhkan baja, dan Wei Jun, dengan ketegasan yang mampu menaklukkan gunung, seharusnya menjadi simbol persatuan dan kemakmuran. Namun, cinta mereka adalah PERMAINAN takhta yang berbahaya. Setiap janji yang terucap, bagaikan pedang bermata dua, siap mengiris hati dan menghancurkan impian.

"Xiaoyu," Wei Jun berbisik di bawah rembulan pucat, tangan kanannya menggenggam erat tangan Xiaoyu yang halus. "Aku bersumpah akan melindungimu, selamanya."

Xiaoyu membalas tatapannya, matanya berkilauan di balik cadar sutra. "Wei Jun, kekuatanku adalah cintamu. Tanpamu, aku hanyalah debu yang diterbangkan angin."

Namun, janji bukanlah jaminan di Istana Purnama. Ambisi merebut takhta merajalela, dan Xiaoyu, yang dianggap lemah dan naif, menjadi bidak yang mudah dikorbankan. Wei Jun, terperangkap dalam jaring-jaring pengkhianatan, dipaksa menyaksikan Xiaoyu menderita. Api dendam mulai membara di dalam hatinya. Dia bersumpah akan membalas semua penderitaan Xiaoyu, bahkan jika itu berarti menumbangkan seluruh dinasti.

Bertahun-tahun berlalu. Wei Jun, dengan kecerdasan dan kekuatan yang terasah oleh penderitaan, naik ke puncak kekuasaan. Dia menjadi Kaisar Wei Jun, penguasa yang disegani dan ditakuti. Namun, dendamnya tak pernah padam. Dia membangun dinasti baru di atas puing-puing pengkhianatan, menciptakan neraka bagi para musuhnya.

Kemudian, suatu malam, di Aula Emas yang dulu dipenuhi kebohongan, Kaisar Wei Jun berhadapan dengan sosok yang selama ini dianggapnya telah tiada. Putri Meng Xiaoyu berdiri di hadapannya, bukan sebagai wanita lemah yang dikasihani, melainkan sebagai PEREMPUAN yang memegang kendali. Tatapannya dingin, senyumnya tipis, dan di tangannya tergenggam racun mematikan.

"Wei Jun," suara Xiaoyu bagai desiran angin es. "Kau telah menuntaskan dendammu. Sekarang, giliran aku."

Wei Jun tertegun. Dia baru menyadari bahwa selama ini, dia hanyalah bidak dalam permainan yang lebih besar. Xiaoyu, dengan keanggunan yang mematikan, telah merencanakan balas dendamnya sejak lama. Dia memanfaatkan cinta Wei Jun, penderitaannya, dan ambisinya untuk mencapai tujuannya.

Dengan satu tegukan anggur yang telah diracuni, Xiaoyu mengakhiri segalanya. Tubuh Wei Jun ambruk ke lantai, matanya memandang Xiaoyu dengan KEHERANAN yang tak terhingga.

Xiaoyu menatap jasad Wei Jun tanpa sedikit pun penyesalan. "Cintamu hanyalah alat untuk mencapai tujuan akhirku," bisiknya lirih. "Dan tujuan itu adalah… KEBEBASAN."

Sejarah mencatat bahwa Kaisar Wei Jun meninggal dunia karena penyakit misterius. Namun, di balik tirai sejarah yang penuh kepalsuan, JANJI YANG KUMASAK DALAM API DENDAM baru saja membakar semuanya.

...Dan takhta kini menjadi MILIKNYA.

You Might Also Like: Seru Sih Ini Cinta Yang Menghapus Nama

Janji yang Menjadi Doa Terakhir Malam itu, hujan mengguyur Kota Kekaisaran layaknya air mata langit. Cahaya lentera yang bergoyang di Pavi...

Cerpen Keren: Janji Yang Menjadi Doa Terakhir Cerpen Keren: Janji Yang Menjadi Doa Terakhir

Janji yang Menjadi Doa Terakhir

Malam itu, hujan mengguyur Kota Kekaisaran layaknya air mata langit. Cahaya lentera yang bergoyang di Paviliun Anggrek hanya mampu menembus pekatnya kabut yang menyelimuti danau. Di dalam paviliun, Li Wei, dengan jubah sutra putih yang ternoda lumpur, duduk bersimpuh menghadap danau. Jemarinya yang lentik memetik senar guqin, menghasilkan melodi pilu yang senada dengan rintik hujan.

Dulu, melodi ini adalah simfoni cinta untuknya dan Pangeran Ketiga, Chen Yi. Dulu, janji-janji terukir indah di bawah rembulan yang sama. Dulu, ia percaya pada takdir yang mempertemukan mereka. Kini, hanya KEHANCURAN yang tersisa.

Chen Yi, dengan jubah naga emasnya yang megah, menikahi Putri Ming Yue dari Kerajaan Utara, demi aliansi politik. Li Wei, yang mengandung benih cintanya, hanya bisa menelan kepedihan dalam diam. Bukan karena ia lemah, bukan karena ia tak mampu melawan. Ia menyimpan rahasia yang lebih besar dari cintanya sendiri, rahasia yang bisa mengguncang fondasi kekaisaran.

Ia adalah keturunan terakhir Klan Penyihir Bulan, penjaga keseimbangan dunia. Janji para leluhurnya mengikatnya untuk menjaga PUSAKA TERLARANG, sebuah artefak kuno yang mampu menghancurkan atau membangun kerajaan. Jika Chen Yi tahu, ia takkan ragu untuk merebutnya.

Li Wei tak pernah berencana untuk membalas dendam. Ia hanya ingin melindungi rahasia itu, melindungi putranya yang belum lahir, yang mewarisi darah penyihir dan darah naga. Namun, takdir punya caranya sendiri.

Ming Yue, dengan senyum manisnya, mulai menunjukkan taringnya. Ia mencurigai Li Wei, merasakan aura mistis yang menguar dari wanita itu. Ia berusaha mencari tahu masa lalu Li Wei, membongkar satu demi satu kebohongan yang disembunyikan dengan rapi.

Suatu malam, Ming Yue menyusup ke kediaman Li Wei. Ia menemukan sebuah kotak kayu berukir naga dan bulan. Di dalamnya, terbaring sebilah belati perak dengan ukiran aneh. Ketika ia menyentuhnya, penglihatan mengerikan melintas di benaknya: kehancuran kerajaan, kematian Chen Yi, dan seorang anak laki-laki dengan mata bulan sabit yang memerintah dengan tangan besi.

KETAKUTAN melumpuhkan Ming Yue. Ia tahu, belati itu adalah kunci untuk mengaktifkan pusaka terlarang. Ia memutuskan untuk membunuh Li Wei, menghancurkan ancaman itu sebelum tumbuh dewasa.

Namun, takdir kembali berbalik. Malam itu, Ming Yue terpeleset di tangga istana dan kehilangan nyawanya. Kematiannya membuka jalan bagi Li Wei untuk melahirkan putranya, Pangeran Ying, tanpa halangan.

Beberapa tahun berlalu. Chen Yi, dilanda kesedihan dan penyesalan, mengangkat Ying sebagai putra mahkota. Ying tumbuh menjadi pemuda yang bijaksana dan kuat, dicintai rakyatnya. Ia membawa kemakmuran bagi kekaisaran, memulihkan keseimbangan yang sempat hilang.

Li Wei, di usia senjanya, memandang putranya dari kejauhan. Ia tahu, janji para leluhurnya telah ditepati. Pusaka terlarang tetap aman, dan takdir telah menggariskan jalan yang lebih baik. Ia memejamkan mata, menghembuskan napas terakhirnya dengan senyum di bibir.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia berbisik, "Semoga takdir tak pernah lupa, cinta sejati kadang bersembunyi di balik KEHENINGAN..."

You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama Bisnis

Kau Pergi Tanpa Alasan, dan Aku Mencari Jawabannya di Setiap Mimpi Aula Emas Istana Ming bersinar di bawah cahaya ratusan lilin. Lantai ma...

SERU! Kau Pergi Tanpa Alasan, Dan Aku Mencari Jawabannya Di Setiap Mimpi SERU! Kau Pergi Tanpa Alasan, Dan Aku Mencari Jawabannya Di Setiap Mimpi

Kau Pergi Tanpa Alasan, dan Aku Mencari Jawabannya di Setiap Mimpi

Aula Emas Istana Ming bersinar di bawah cahaya ratusan lilin. Lantai marmernya memantulkan bayangan para pejabat yang berkerumun, tatapan mereka TAJAM bagai belati terhunus. Di tengah kemegahan yang mencekam ini, Putri An Li berdiri. Gaun sutra merahnya menyapu lantai, kontras dengan raut wajahnya yang pucat. Ia baru saja kehilangan Chen Yi, putra mahkota yang dicintainya, yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Chen Yi, pewaris takhta yang karismatik dan cerdas, adalah dunianya. Cinta mereka tumbuh di balik dinding istana, dilindungi dari intrik dan perebutan kekuasaan yang menggerogoti setiap sudut. Mereka berjanji setia, saling mengikatkan diri dalam simpul yang mereka kira takkan terurai. Namun, Chen Yi LENYAP.

"Dia pasti diculik," bisik Ibu Suri, suaranya dipenuhi kekhawatiran yang dibuat-buat. An Li tahu, di balik tirai sutra dan senyum palsu, istana ini penuh dengan pengkhianat. Setiap orang memiliki agenda tersembunyi, dan cinta mereka mungkin hanya menjadi pion dalam permainan takhta yang kejam.

An Li mulai menyelidiki. Setiap malam, ia bermimpi tentang Chen Yi, tentang mata hitamnya yang hangat, tentang senyumnya yang menenangkan. Namun, dalam mimpi itu pula, ia melihat bayangan-bayangan gelap, mendengar bisikan ancaman, dan merasakan bahaya yang mengintai. Mimpi-mimpi itu adalah petunjuk, potongan-potongan puzzle yang harus ia rangkai.

Ia menemukan surat-surat rahasia, perjanjian terlarang, dan saksi-saksi yang ketakutan. Semua mengarah pada satu kesimpulan mengerikan: Chen Yi dikhianati oleh orang terdekatnya. Mungkin, bahkan oleh seseorang yang ia cintai.

Selama pencariannya, ia bertemu dengan Wei Jun, seorang jenderal muda yang setia dan berani. Wei Jun diam-diam mencintai An Li, tetapi ia tahu cintanya takkan terbalas. Namun, ia berjanji akan melindunginya, bahkan dengan nyawanya sendiri. Wei Jun menjadi mata dan telinga An Li, membantunya mengungkap kebenaran di tengah labirin kebohongan.

An Li semakin dekat dengan jawaban, tetapi bahaya juga semakin mengancam. Ia menyadari bahwa ini bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang kekuasaan. Cinta Chen Yi telah menjadi permainan takhta, di mana setiap janji adalah pedang bermata dua.

Akhirnya, ia menemukan dalang di balik semua ini: Ibu Suri. Ternyata, ia bersekongkol dengan klan utara untuk menjatuhkan Chen Yi dan menggantikannya dengan putranya yang lain, yang lebih mudah dikendalikan.

Di malam yang dingin dan penuh perhitungan, An Li menghadapi Ibu Suri di Aula Emas.

"Kau pikir aku lemah, Nyonya?" tanya An Li, suaranya tenang tetapi mematikan. "Kau salah. Kau meremehkanku."

An Li, yang selama ini dianggap lemah dan penurut, ternyata menyimpan rahasia yang lebih besar. Ia telah belajar politik istana dari Chen Yi, menguasai seni manipulasi dan strategi. Ia telah mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Ibu Suri, dan kini saatnya untuk membalas dendam.

Dengan gerakan elegan dan dingin, An Li memerintahkan pengawal untuk menangkap Ibu Suri dan para pengkhianat lainnya. Di mata An Li tidak ada ampun, hanya api balas dendam yang membara.

"Aku akan memastikan kau membayar atas apa yang kau lakukan pada Chen Yi," bisik An Li, suaranya bagai desiran angin maut.

Ibu Suri hanya bisa menatap ngeri saat takhtanya runtuh di sekelilingnya. An Li, yang dulunya adalah bidak, kini menjadi ratu yang tak terkalahkan.

Dan ketika An Li naik ke takhta, memimpin kerajaan yang rapuh ini menuju masa depan yang tidak pasti, ia tahu bahwa sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri, meninggalkan sebuah pertanyaan BESAR yang menggantung di udara: Apakah ini awal dari kedamaian, atau hanya awal dari perang yang lebih dahsyat?!

You Might Also Like: 91 Rahasia Skincare Lokal Dengan

Senyum yang Menyimpan Luka Terdalam Lorong istana itu sunyi, hanya gemerisik sutra Hanfu panjang yang menyapu lantai marmer dingin yang m...

Ini Baru Cerita! Senyum Yang Menyimpan Luka Terdalam Ini Baru Cerita! Senyum Yang Menyimpan Luka Terdalam

Senyum yang Menyimpan Luka Terdalam

Lorong istana itu sunyi, hanya gemerisik sutra Hanfu panjang yang menyapu lantai marmer dingin yang memecah keheningan. Kabut tipis menyusup dari jendela berukir naga, membuat siluet patung-patung perunggu tampak menari dalam remang cahaya. Di ujung lorong, berdiri seorang pria. Wajahnya pucat, nyaris transparan, diterangi seberkas cahaya bulan. Ia bagai hantu yang kembali dari alam baka.

"Xiao Wang?" bisik Putri Mei Lian, suaranya bergetar. Ia mendekat, ragu-ragu, seolah takut sentuhan akan membuatnya menghilang.

Xiao Wang, yang seharusnya tewas dalam pemberontakan lima tahun lalu, menatapnya dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Senyum itu MENYESAKKAN.

"Putri," sapanya, suaranya serak seperti desiran angin di puncak gunung. "Lama tak berjumpa."

"Kau...kau hidup? Bagaimana?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, lepas kendali seperti air bah.

"Kematian hanyalah sebuah persiapan," jawab Xiao Wang, matanya menyorot tajam. "Persiapan untuk menghadapi kenyataan yang lebih pahit."

Mei Lian mundur selangkah. Ia merasakan hawa dingin menjalar di tulang punggungnya. "Kenyataan apa?"

"Kenyataan bahwa kau, Putri, adalah dalang di balik semuanya."

Mata Mei Lian membulat. "Apa yang kau katakan? Aku...aku tidak mengerti."

Xiao Wang tertawa pelan. Tawa itu lirih, namun terasa seperti guntur di telinga Mei Lian. "Jangan berpura-pura, Putri. Aku tahu segalanya. Aku tahu siapa yang menyuruh membunuh ayahku, aku tahu siapa yang menghasut pemberontakan, dan aku tahu siapa yang mengirimku ke jurang kematian."

"Ini fitnah! KEJI!" Mei Lian berteriak, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa terjebak dalam mimpi buruk.

"Fitnah?" Xiao Wang mendekat, langkahnya tenang dan pasti. Ia meraih dagu Mei Lian, memaksanya menatap matanya. "Lihatlah dirimu, Putri. Kau adalah simbol kepolosan dan kebaikan hati. Namun di balik senyum manis itu, bersembunyi hati yang busuk dan penuh perhitungan."

Mei Lian berusaha melepaskan diri, namun cengkraman Xiao Wang terlalu kuat. Ia bisa merasakan kematian mengintai di setiap kata yang diucapkannya.

"Lima tahun aku hidup dalam kegelapan, Putri. Lima tahun aku merencanakan balas dendam. Dan sekarang, saatnya kau membayar semua yang telah kau lakukan."

Xiao Wang melepaskan dagu Mei Lian, lalu berbalik, berjalan menjauh. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak dan menoleh. Senyumnya kini lebar, MEMATIKAN.

"Kau pikir aku adalah korban, Putri? Kau salah. Aku yang menulis naskah ini, dan kau hanyalah wayang dalam pertunjukanku. Semua ini, adalah rencanaku sejak awal."

You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Dicakar Cendrawasih

Langit Jakarta, era digital ini, lebih sering menampilkan error daripada bintang. Sinyal hilang timbul, seperti denyut jantung yang sekara...

Cerpen Seru: Cinta Yang Menyembah Rasa Sakit Cerpen Seru: Cinta Yang Menyembah Rasa Sakit

Langit Jakarta, era digital ini, lebih sering menampilkan error daripada bintang. Sinyal hilang timbul, seperti denyut jantung yang sekarat. Di tengah kekacauan itu, Renjana, si perancang mimpi masa depan, merindukan seseorang yang bahkan belum pernah ia temui.

"Sedang mengetik..."

Notifikasi itu menggantung, abadi, di layar ponselnya. Nama di atasnya: Aksara. Seorang ghost writer puisi dari tahun 2045, ketika kopi masih terasa pahit dan cinta sejati adalah mitos yang dijual dengan harga selangit.

Renjana hidup di 2145. Dunia masa depannya adalah labirin cyberpunk, di mana manusia terhubung ke metaverse untuk melarikan diri dari kenyataan yang memuakkan. Ia menemukan Aksara melalui sebuah aplikasi wormhole yang seharusnya menghubungkannya dengan server arsip lama. Tapi, entah bagaimana, aplikasi itu malah membawanya ke Aksara.

Aksara, di sisi lain, terperangkap dalam nostalgia. Ia menulis tentang hujan, tentang sentuhan kulit, tentang hal-hal analog yang sudah lama dilupakan. Ia mengirim pesan dengan harapan ada yang mendengarkan gema hatinya di tengah bisingnya dunia yang semakin AI.

"Halo? Apakah ada di sana? Apakah kamu merasakan apa yang kurasakan?"

Pesan-pesan Aksara selalu tiba di layar Renjana dalam bentuk pecahan kode, yang harus ia dekripsi satu per satu. Prosesnya menyakitkan, seperti mengorek luka lama yang belum sembuh. Namun, Renjana kecanduan rasa sakit itu. Mungkin karena itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup.

Mereka berbicara tentang rasa sakit. Aksara tentang sakitnya kehilangan masa lalu, Renjana tentang sakitnya masa depan tanpa harapan. Mereka saling berbagi kerinduan, meski terpisah satu abad. Cinta mereka tumbuh subur di tanah tandus disfungsi digital. Sebuah cinta absurd, hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah merasakan pahitnya KEHILANGAN.

Suatu malam, di tengah badai matahari yang mengancam memadamkan seluruh jaringan digital, Aksara mengirim sebuah pesan terakhir. Pesan itu tidak terenkripsi, polos, namun menusuk jantung Renjana.

"Renjana... aku tahu kenapa kita terhubung."

Ia melanjutkan: "Kita bukan hanya terpisah waktu. Kita terpisah dimensi. Kamu adalah ECHO dari diriku yang mati sebelum sempat mencintai. Dan aku... adalah BAYANGAN dari masa depanmu yang tidak akan pernah terjadi."

Seketika, layar ponsel Renjana berkedip. Sinyal hilang. Aplikasi wormhole mati. Aksara menghilang.

Renjana menatap langit Jakarta yang penuh error. Ia tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa Aksara benar. Cinta mereka hanyalah gema, sebuah LOOPING tak berujung dari kehidupan yang tak pernah selesai. Mereka terikat, bukan oleh takdir, tapi oleh rasa sakit yang sama.

Dan kemudian, sebuah pesan terakhir, dari sumber yang tidak dikenal, muncul di layar yang nyaris padam:

"Jangan lupakan aku, meski kita tidak pernah ada…"

You Might Also Like: Jual Skincare Yang Cocok Untuk Semua