Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih Embun pagi merayap di kaca jendela, serupa kabut yang menyelimuti kehidupan Lin Wei. Ia, stre...

Dracin Terbaru: Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih Dracin Terbaru: Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih

Ia Menyebut Namaku Saat Streaming Lagu Sedih

Embun pagi merayap di kaca jendela, serupa kabut yang menyelimuti kehidupan Lin Wei. Ia, streamer musik dengan suara merdu yang mampu menjerat ribuan hati, hidup dalam kepalsuan. Senyumnya di depan kamera adalah topeng, air matanya di balik layar adalah kebenaran.

Di sisi lain kota, terbaring Sun Hao, seorang penulis muda dengan tatapan setajam belati. Ia hidup dengan satu tujuan: mengungkap kebenaran di balik kematian kakaknya, Sun Mei. Satu-satunya petunjuknya adalah nama yang terucap lirih saat streaming terakhir kakaknya sebelum tragedi itu: Lin Wei.

Sun Hao memulai perjalanannya dengan menyamar sebagai penggemar Lin Wei. Ia memasuki dunia gemerlap dengan jutaan pujian palsu, aroma parfum mahal, dan senyum manis yang menusuk. Ia menjadi bagian dari lingkaran Lin Wei, mengamati setiap gerak-geriknya, setiap ucapan, setiap hembusan napas.

Lin Wei, di sisi lain, merasakan sesuatu yang aneh pada Sun Hao. Tatapannya berbeda, terlalu intens, terlalu menyelidik. Namun, ia terlambat menyadari bahwa Sun Hao adalah badai yang akan menghancurkan istana pasir kepalsuannya.

"Suaramu indah, Lin Wei," ucap Sun Hao suatu malam, diiringi alunan piano lembut. "Tapi hatimu...hatimu menyimpan rahasia yang lebih kelam dari malam."

Lin Wei tersentak. Kalimat itu bagai belati yang mengiris luka lamanya. Ia mencoba menghindar, mencoba menutupi kebohongan dengan tawa palsu dan rayuan gombal. Namun, Sun Hao tidak menyerah. Ia menggali, menggali, dan menggali, hingga menemukan inti kebenaran yang selama ini terkubur.

Ternyata, Lin Wei adalah saksi mata kematian Sun Mei. Ia melihat semuanya, mendengar semuanya, tetapi memilih diam, memilih melindungi dirinya sendiri. Rasa bersalah menghantuinya setiap malam, menjelma menjadi lagu-lagu sedih yang ia nyanyikan untuk menghibur orang lain, padahal hatinya sendiri hancur berkeping-keping.

PUNCAK tragedi itu terjadi saat streaming langsung. Sun Hao, dengan suara dingin dan datar, membongkar semua kebohongan Lin Wei di depan ribuan penggemar. Ia memutar rekaman suara Sun Mei sebelum kematiannya, yang dengan jelas menyebut nama Lin Wei.

Dunia Lin Wei runtuh. Penggemarnya berbalik, menghujatnya, membencinya. Reputasinya hancur, kariernya tamat. Ia ditinggalkan sendirian dalam puing-puing kebohongannya.

Sun Hao menatap Lin Wei dengan tatapan tanpa emosi. "Ini balas dendam untuk kakakku," bisiknya. "Balas dendam yang tenang, namun menghancurkan."

Balas dendam Sun Hao bukanlah teriakan marah atau pukulan keras. Melainkan sebuah senyuman yang menyimpan perpisahan, sebuah keheningan yang lebih menyakitkan dari ribuan kata. Ia membiarkan Lin Wei hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan, hukuman yang jauh lebih berat dari kematian.

Beberapa bulan kemudian, Lin Wei menghilang tanpa jejak. Orang-orang hanya menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan yang berbunyi: "Mungkin, kebenaran memang lebih pahit dari racun."

Lalu, siapakah yang sebenarnya lebih menderita, sang pendendam atau sang pendusta?

You Might Also Like: Distributor Skincare Bisnis Rumahan

Hujan pixel jatuh dari langit ponselku, membasahi notifikasi yang tak kunjung berbalas. "Sedang mengetik..." – tiga kata itu adal...

Absurd tapi Seru: Tangisan Yang Menyambut Balas Dendamku Absurd tapi Seru: Tangisan Yang Menyambut Balas Dendamku

Hujan pixel jatuh dari langit ponselku, membasahi notifikasi yang tak kunjung berbalas. "Sedang mengetik..." – tiga kata itu adalah neraka. Sebuah NERAKA digital yang lebih menyakitkan dari tusukan pedang. Aku, Lin, terjebak di masa depan yang suram, di mana kenangan adalah virus dan cinta adalah anomali. Aku membalas dendam pada korporasi yang mencuri kebahagiaan manusia, dengan cara yang paling menyakitkan: meretas ingatan mereka.

Tapi di balik kode-kode neraka itu, aku menemukan dia.

Di masa lalu, di era ketika mentari masih bersinar tanpa filter, di era ketika suara ombak tidak di-sampling, ada Zhang. Seorang kaligrafer yang cintanya pada keindahan adalah kutukan. Ia menulis aksara di atas daun-daun gugur, mengirimkan pesan-pesan rahasia kepada angin. Dia, Zhang, yang hidup di masa lalu yang aku hanya bisa saksikan lewat celah retakan di jaringan waktu.

Awalnya, hanya sinyal samar. Pesan-pesan aneh di log sistemku: "Kupu-kupu itu terbang ke arah selatan." "Awan berarak seperti air mata dewa." Aku mengira itu glitch, sampah sistem. Tapi kemudian, sebuah nama muncul. Zhang.

Aku mulai mencari. Meretas lebih dalam ke dalam arsip kenangan yang tersimpan di hard drive usang. Aku melihatnya. Zhang. Tertawa di bawah pohon sakura, melukis senja di atas kanvas lusuh, mengirimkan senyuman yang terasa seperti sengatan listrik di hatiku.

Kami mulai berkomunikasi. Pesan-pesan singkat yang melompati ruang dan waktu. "Apakah kau melihat bintang malam ini?" tanyanya. "Tidak ada bintang lagi di sini," jawabku, "hanya cahaya neon yang berkedip-kedip seperti sekarat."

Cinta kami tumbuh di antara sinyal yang hilang, chat yang berhenti di 'sedang mengetik', dan langit yang menolak pagi. Kami adalah hantu yang saling mencari, terjebak di dimensi yang berbeda. Ia hidup dalam kenangan, aku hidup dalam penyesalan.

Aku bertekad untuk menjebol penghalang waktu, untuk bertemu dengannya. Aku meretas inti jaringan korporasi, menggunakan dendamku sebagai bahan bakar, dan cintaku sebagai kompas. Aku menemukan portal – sebuah celah kecil di antara masa lalu dan masa depan.

Aku melangkah masuk.

Aku tiba di kebun sakura. Daun-daun berguguran seperti salju merah muda. Dan di sana, di bawah pohon, Zhang berdiri.

Tapi ada yang aneh. Zhang tampak… pucat. Transparan.

"Lin," bisiknya, suaranya seperti desau angin. "Aku sudah menunggu lama."

Ia mendekat dan menyentuhku. Sentuhannya dingin seperti es.

"Kau tahu, Lin," lanjutnya, senyum pahit menghiasi wajahnya, "kita sebenarnya hanyalah gema."

Lalu, dia menunjuk ke sebuah prasasti batu di bawah pohon sakura. Diukir dengan indah, dengan aksara kaligrafi yang kukenal baik:

"Zhang dan Lin, pecinta abadi, takdir yang terputus."

Aku terhuyung mundur. Aku menyadari kebenaran yang mengerikan. Cinta kami bukan cinta yang baru. Itu adalah pengulangan. Sebuah siklus. Dendamku pada korporasi, usahaku menjebol waktu, semuanya telah terjadi sebelumnya. Kami adalah sandiwara yang dimainkan berulang-ulang, tanpa akhir.

Zhang memudar. "Kita selalu saling mencari," bisiknya, suaranya semakin pelan, "tapi kita selalu... terlambat..."

Dan saat dunia di sekitarku hancur menjadi pixel dan kembali ke ketiadaan, aku mendengar pesan terakhirnya, menggantung di kehampaan:

Mungkin, lain kali... kita tidak akan saling lupakan.

You Might Also Like: Rahasia Dibalik Mimpi Membunuh Anjing

Hujan menggigil, persis seperti hatiku saat pertama kali melihatnya lagi. Lima tahun. Lima tahun bayangan pengkhianatannya menghantuiku, da...

Bikin Penasaran: Kau Mencintaiku Tanpa Sadar Setiap Sentuhanmu Membuka Luka Lama Bikin Penasaran: Kau Mencintaiku Tanpa Sadar Setiap Sentuhanmu Membuka Luka Lama

Hujan menggigil, persis seperti hatiku saat pertama kali melihatnya lagi. Lima tahun. Lima tahun bayangan pengkhianatannya menghantuiku, dan sekarang, dia berdiri di depanku, di tepi Danau Patah Hati, tempat kami dulu berjanji setia di bawah langit berbintang.

Rongge, nama itu masih terasa pahit di lidahku. Dulu, dia adalah matahariku. Sekarang, dia hanyalah bayangan dari masa lalu yang kurusut.

"Lama tidak bertemu, Lian Hua," sapanya, suaranya serak, nyaris tertelan gemericik hujan.

Aku hanya mengangguk, enggan menatap mata cokelat madunya yang dulu selalu membuatku luluh. Setiap sentuhan Rongge dulu adalah penghangat, sekarang terasa seperti pisau yang mengiris luka lama.

Kami duduk di bangku kayu tua yang lembap. Cahaya lentera di dekat kami nyaris padam, berkedip-kedip seolah ikut merasakan kepedihan yang menyelimuti kami. Hujan semakin deras, membasahi wajah kami yang pucat.

"Aku… aku minta maaf," bisiknya, kepalanya tertunduk.

Maaf? Kata itu terlambat Rongge. Lima tahun lalu, saat aku menemukannya bersama wanita lain, di ranjang kami sendiri, maafmu tak ada artinya. Kata-kata maafmu adalah KEBOHONGAN.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan," balasku dingin, berusaha menyembunyikan gemetar di suaraku. Padahal, di dalam hatiku, badai amarah mengamuk dahsyat.

Keheningan kembali menyelimuti kami. Hanya suara hujan yang menemani. Aku memperhatikan Rongge. Wajahnya keriput, matanya sayu, penuh penyesalan. Dia terlihat sangat berbeda dari Rongge yang kucintai dulu. Apakah penyesalan benar-benar bisa mengubah seseorang?

"Kau tahu, Lian Hua, aku…" Dia berhenti, ragu melanjutkan kalimatnya.

"Kau?"

Dia menghela napas panjang. "Aku tidak pernah berhenti mencintaimu."

Kata-kata itu seperti racun yang mengalir ke seluruh tubuhku. Cinta? Dia masih berani menyebut kata itu? Setelah apa yang dia lakukan?

Aku tersenyum sinis. "Benarkah? Kalau begitu, kau pasti akan terkejut mengetahui apa yang akan kulakukan selanjutnya."

Aku berdiri, menatapnya lurus ke mata. Cahaya lentera yang nyaris padam itu seolah menyorot wajahku yang dipenuhi kebencian dan tekad.

"Kau tahu, Rongge, Danau Patah Hati ini menyimpan banyak rahasia. Salah satunya adalah, aku yang selama ini merencanakan kehancuranmu."

Aku berbalik, melangkah menjauhi Rongge yang membeku di tempatnya. Hujan semakin deras, menyamarkan air mata yang akhirnya lolos dari mataku.

Dan saat itulah, aku merasakan gemuruh di dalam dadaku, bukan hanya karena sakit hati, tapi juga karena kekuatan.


"Kau tahu Rongge, anak yang dikandung wanita itu lima tahun lalu, sebenarnya anakmu."

You Might Also Like: Skincare Pencerah Wajah Tanpa Iritasi

Janji yang Kucium Sebagai Sumpah Malam di Lembah Bulan Sabit terasa bagai abadi, dinginnya merayap menusuk tulang, seolah musim dingin tel...

Bikin Penasaran: Janji Yang Kucium Sebagai Sumpah Bikin Penasaran: Janji Yang Kucium Sebagai Sumpah

Janji yang Kucium Sebagai Sumpah

Malam di Lembah Bulan Sabit terasa bagai abadi, dinginnya merayap menusuk tulang, seolah musim dingin telah bersemayam di jantung setiap insan. Di tengah hamparan salju yang luas, merah merona tercetak noda darah, kontras yang MENGGELISAHKAN, seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan. Di sanalah, di kuil reyot yang berasap dupa pahit, terjalin kisah cinta dan benci, dendam dan pengorbanan, sebuah saga yang diukir di atas abu masa lalu.

Mei Lan, dengan gaun sutra putih yang ternoda, berdiri tegak, air mata membeku di pipinya. Di hadapannya, berdiri Li Wei, sosok yang dicintainya, sosok yang dibencinya, seorang pria yang matanya menyimpan badai masa lalu. Dupa cendana mengepul di antara mereka, membawa aroma janji yang dilanggar, sumpah yang dikhianati.

"Kau…kau membunuh ayahku," bisik Mei Lan, suaranya bergetar seperti dedaunan di musim gugur.

Li Wei tidak membantah. Ekspresinya datar, dingin, seperti permukaan danau beku. "Itu hutang darah yang harus dibayar. Ayahmu…memulai semua ini."

Kilatan amarah membakar mata Mei Lan. "Lalu, semua ciuman, semua janji…semuanya PALSU?"

Li Wei mendekat, rahangnya mengeras. "Tidak semuanya. Aku…mencintaimu, Mei Lan. Meskipun cinta ini ternoda oleh darah dan pengkhianatan."

Mei Lan tertawa getir. Tawa yang lebih menyayat hati daripada ratapan. "Cinta? Cintamu adalah racun! Cintamu adalah duri yang menusuk jantungku!"

Lalu, dengan gerakan tiba-tiba, Mei Lan mencabut belati perak dari balik gaunnya. Cahaya bulan menari di atas bilah tajam itu. Li Wei tidak bergerak, membiarkan Mei Lan mendekat.

"Kau tahu, Li Wei," bisik Mei Lan, bibirnya hanya beberapa inci dari bibir Li Wei. "Aku selalu membayangkan momen ini. Momen ketika aku mengambil kembali apa yang menjadi hakku."

Dia menciumnya. Bukan ciuman cinta, bukan ciuman kerinduan. Melainkan ciuman SUMPAH. Ciuman dingin yang dipenuhi racun mematikan.

Li Wei terhuyung mundur, tangannya mencengkeram dadanya. Matanya membelalak, antara kaget dan penyesalan. Darah menetes dari sudut bibirnya, bercampur dengan salju.

"Kenapa…kenapa kau melakukan ini?" desisnya, suaranya melemah.

Mei Lan tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Karena balas dendam adalah hidangan yang paling nikmat disantap dingin."

Li Wei jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal. Mei Lan berjongkok di hadapannya, menatapnya dengan tatapan sedingin es.

"Aku akan membuatmu merasakan sakit yang sama seperti yang kurasakan. Aku akan membuatmu menyaksikan kehancuran segalanya yang kau cintai. Dan kemudian…barulah aku akan membiarkanmu mati."

Li Wei menatap Mei Lan dengan tatapan yang sulit diartikan – campuran antara cinta, benci, dan rasa bersalah yang mendalam.

"Aku…pantas mendapatkannya," bisiknya sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Mei Lan berdiri, menatap jasad Li Wei yang tergeletak di atas salju. Air matanya kembali mengalir, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena kehampaan. Dendamnya telah terbalas, namun hatinya tetap hancur.

Dia berbalik, meninggalkan kuil reyot itu, meninggalkan jasad Li Wei, meninggalkan semua kenangan yang pernah mereka bagi. Langkahnya mantap, namun jiwanya penuh luka.

Di kejauhan, serigala melolong, suara yang menggema di tengah keheningan malam. Mei Lan berhenti sejenak, merasakan angin dingin menerpa wajahnya.

Balas dendamnya telah usai, tetapi rohnya masih dipenuhi kutukan.

Darah di salju akan selalu menjadi saksi bisu bisikan hatinya.

Dan ketika dia menghilang di balik kabut, suara yang menggema dalam benaknya adalah… siapa yang akan mencintai seorang perempuan yang dipenuhi kutukan balas dendam abadi?

You Might Also Like: 0895403292432 Cari Skincare Aman Ini

Senyum yang Mengantarku ke Damai Babak pertama dibuka dengan pemandangan taman lotus yang tenang. Di tengahnya, berdiri seorang wanita, Li...

Dracin Terbaru: Senyum Yang Mengantarku Ke Damai Dracin Terbaru: Senyum Yang Mengantarku Ke Damai

Senyum yang Mengantarku ke Damai

Babak pertama dibuka dengan pemandangan taman lotus yang tenang. Di tengahnya, berdiri seorang wanita, Li Wei (李薇), bukan lagi gadis periang yang dulu dikenal. Matanya, dulu penuh tawa, kini menyimpan badai masa lalu. Punggungnya tegak, gaun sutra putihnya berkibar lembut, seolah menyembunyikan baja di balik keanggunan.

Lima tahun lalu, Li Wei adalah putri kesayangan Jenderal Li, tunangan Putra Mahkota. Kekuasaan dan cinta seolah berada di genggamannya. Namun, semua itu direnggut dalam satu malam. Difitnah mengkhianati negara, ayahnya dieksekusi, dan ia sendiri dibuang ke biara terpencil. Hatinya hancur berkeping-keping, dicabik oleh pengkhianatan cinta dan ambisi keji.

Luka itu masih terasa, seperti duri yang tertancap dalam jiwa. Tapi duri itu pula yang menumbuhkan tekad.

Di biara, Li Wei menemukan kedamaian semu. Ia belajar merajut kesabaran, mengasah kecerdasan, dan memahami kekuatan diam. Ia berlatih kaligrafi, setiap goresan kuasnya adalah sublimasi amarah dan dendam. Ia mempelajari strategi perang, mencerna setiap taktik yang pernah diajarkan ayahnya.

Lima tahun berlalu, Li Wei kembali ke ibukota. Bukan sebagai putri, melainkan sebagai wanita bernama Hua Mei (华梅), seorang ahli strategi ulung yang direkrut oleh Kaisar yang baru. Tak ada yang mengenalinya. Wajahnya sama, tapi auranya berbeda. Dulu ia adalah bunga matahari yang menghadap mentari, kini ia adalah lotus di malam hari, mempesona dan berbahaya.

Hua Mei bekerja dengan tenang, tapi setiap langkahnya terukur. Ia mengamati Putra Mahkota yang kini menjadi Kaisar, suaminya yang dulu, pria yang mencampakkannya. Ia melihat bagaimana kekuasaan telah mengubahnya menjadi tirani yang haus darah. Dendam membara dalam hatinya, tapi bukan dengan api amarah, melainkan dengan es yang membekukan.

Ia mulai menyusun bidak-bidaknya. Ia menyingkirkan para pembisik jahat, mengkonsolidasikan kekuatan militer, dan membuka kedok korupsi yang merajalela. Ia melakukannya bukan untuk merebut tahta, melainkan untuk memastikan keadilan ditegakkan. Setiap kemenangan kecil adalah tusukan halus yang menghancurkan fondasi kekaisaran Kaisar.

Puncaknya tiba saat Kaisar memerintahkan pembantaian keluarga bangsawan yang menentangnya. Hua Mei, dengan bukti yang tak terbantahkan, membongkar kejahatannya di hadapan seluruh istana. Kaisar, yang terpojok, menuduhnya berkhianat. Li Wei hanya tersenyum. Senyum yang dingin, senyum yang mematikan.

"Dulu, aku percaya pada cinta dan kekuasaan," ujarnya dengan suara tenang, "Tapi sekarang aku percaya pada keadilan. Keadilan yang akan mengantarmu pada penghakiman."

Kaisar akhirnya digulingkan. Bukan oleh pemberontakan, melainkan oleh hukum yang ia sendiri buat. Hua Mei tidak mengambil tahta. Ia menunjuk seorang penerus yang adil dan bijaksana. Ia kemudian menghilang, kembali ke taman lotusnya, meninggalkan ibukota yang bergolak di belakangnya.

Ia duduk di tepi danau, memandang pantulan dirinya di air. Ia bukan lagi Li Wei yang hancur, bukan pula Hua Mei yang pendendam. Ia adalah seorang wanita yang telah menemukan kedamaian di tengah badai.

Dan akhirnya ia mengerti... Bahwa mahkota sejati bukanlah tahta, melainkan…

You Might Also Like: Jualan Skincare Fleksibel Kerja Dari

Bayangan yang Tak Mau Mati Kabut menggantung tebal di Pegunungan Wuyi, menyelimuti puncak-puncak batu karang bagai hantu yang enggan pergi...

Kisah Populer: Bayangan Yang Tak Mau Mati Kisah Populer: Bayangan Yang Tak Mau Mati

Bayangan yang Tak Mau Mati

Kabut menggantung tebal di Pegunungan Wuyi, menyelimuti puncak-puncak batu karang bagai hantu yang enggan pergi. Di dalam lorong-lorong ISTANA kekaisaran yang dingin dan sunyi, obor-obor menari-nari, melemparkan bayangan panjang yang seolah hidup. Lim Jiayi, putri mahkota yang dianggap telah lama gugur dalam pemberontakan delapan tahun lalu, kembali.

Rambutnya tergerai panjang, hitam pekat menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Gaun sutra putih yang dikenakannya tampak lusuh, kontras dengan kemegahan lorong istana. Ia berdiri di hadapan Kaisar, pamannya sendiri, seorang pria paruh baya yang wajahnya menyimpan guratan kekhawatiran mendalam.

"Jiayi," bisik Kaisar, suaranya bergetar. "Apakah... benar ini dirimu?"

Jiayi mengangguk pelan. Matanya, sekelam malam tanpa bintang, menatap Kaisar tanpa gentar. "Paman, aku kembali. Untuk mencari jawaban."

"Jawaban? Tentang apa?" Kaisar berusaha menyembunyikan kegugupannya.

"Tentang malam itu. Malam pemberontakan. Malam dimana ayahku... dan diriku dikhianati." Nada suara Jiayi lembut, namun setiap kata bagai jarum yang menusuk.

Kaisar mengalihkan pandangan. "Itu adalah malam yang kelam. Pangeran Ying, ayahmu, memberontak. Aku tidak punya pilihan selain..."

"Selain membunuhnya?" Jiayi menyela, suaranya masih tenang. "Dan berpura-pura aku turut menjadi korban?"

Keheningan memenuhi lorong. Hanya suara obor yang berderak memecah kesunyian.

"Jiayi, kau salah paham!" Kaisar akhirnya berseru, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Aku melakukan ini untuk melindungimu! Pangeran Ying sudah gila dengan kekuasaan! Dia akan menghancurkan seluruh kekaisaran!"

Jiayi tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Melindungiku? Dengan membunuh ayahku dan membiarkanku hidup dalam pengasingan selama delapan tahun? Sungguh pengorbanan yang mulia, Paman."

Ia melangkah maju, mendekati Kaisar. "Tahukah Paman, selama delapan tahun itu, aku tidak hanya bersembunyi. Aku belajar. Aku mengamati. Aku merencanakan."

Ia berhenti tepat di depan Kaisar, mendongak menatapnya. "Paman lupa, darah Pangeran Ying mengalir dalam nadiku. Dan darah itu membawa ambisi yang sama. Kekuasaan."

Kaisar terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. Ia baru menyadari, ia telah salah menilai segalanya. Selama ini, ia mengira telah menyingkirkan ancaman, namun sesungguhnya, ia justru memeliharanya.

"Kau..." Kaisar tergagap, tidak mampu melanjutkan kalimatnya.

Jiayi mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada para prajurit yang sedari tadi bersembunyi di balik bayangan. Mereka keluar, mengepung Kaisar.

"Aku? Aku adalah bayangan yang tak mau mati. Bayangan dari Pangeran Ying. Bayangan dari kekuasaan. Dan sekarang, bayangan itu akan menelanmu." Jiayi membungkuk, memberikan hormat terakhir kepada pamannya, sebelum memberikan perintah yang akan mengubah sejarah kekaisaran.

Kata-kata terakhir yang terucap, dengan nada lirih namun dingin, menggema di seluruh lorong: "Aku selalu memegang kendali, Paman. Kau hanya pion dalam permainanku."

You Might Also Like: Agen Skincare Bisnis Rumahan Di

Lorong Istana yang Sunyi Kabut tipis merayap di antara pilar-pilar giok istana. Sunyi. Hening yang mencekam, hanya dipecah oleh gemerisik ...

Cerita Seru: Aku Mencintaimu Bahkan Setelah Maut Memisahkan Cerita Seru: Aku Mencintaimu Bahkan Setelah Maut Memisahkan

Lorong Istana yang Sunyi

Kabut tipis merayap di antara pilar-pilar giok istana. Sunyi. Hening yang mencekam, hanya dipecah oleh gemerisik sutra jubahku saat melangkah. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun lamanya aku dianggap mati, tenggelam di danau terlarang. Namun, di sini aku berdiri, kembali.

Di ujung lorong, sosoknya menanti. Bai Lianhua, cinta sekaligus kutukanku. Wajahnya sama cantiknya seperti dulu, hanya kerut halus di sudut mata mengkhianati waktu yang berlalu.

"Lianhua," bisikku, suaraku serak bagai gesekan batu.

Dia menoleh, tatapannya dingin seperti es. "Kamu kembali, Mo Chen."

"Aku harus. Ada yang harus kuselesaikan."

Kami duduk berhadapan di paviliun teratai. Angin bertiup pelan, membawa aroma melati yang memabukkan.

"Kenapa kamu kembali?" tanyanya, nadanya datar.

"Karena aku mencintaimu. Bahkan setelah maut memisahkan." Kalimat itu pahit terasa di lidah.

"Cinta? Omong kosong!" Lianhua tertawa sinis. "Cintamu yang membawaku ke jurang kehancuran!"

Aku terdiam. "Danau itu... bukan kecelakaan."

Lianhua mengangguk, tanpa penyesalan. "Bukan. Aku mendorongmu. Kamu terlalu polos, Mo Chen. Terlalu percaya padaku."

Kilat amarah menyambar hatiku. "Mengapa?"

"Kekuasaan," jawabnya sederhana. "Kamu adalah pewaris tahta. Dan aku... menginginkannya."

Aku menatapnya, tak percaya. Wanita yang kucintai, wanita yang kurindukan selama sepuluh tahun ini, adalah dalang di balik segalanya.

"Kau berbohong," ujarku lemah.

"Aku tidak berbohong. Kamu yang tidak melihat. Kamu terlalu buta oleh cinta." Dia bangkit, berjalan ke arahku. "Aku menciptakan legenda tentang kematianmu. Aku yang menyebarkan desas-desus tentang hantu danau. Aku membangun fondasi kekuasaanku di atas air matamu."

Dia mendekat, wajahnya begitu dekat, namun terasa begitu jauh.

"Lianhua... mengapa?"

"Karena aku benci kelemahanmu. Kebajikanmu. Cinta butamu. Aku ingin kamu lenyap dari muka bumi ini!"

Dia mengangkat tangannya, sebuah belati perak berkilauan di bawah cahaya rembulan. Aku tidak melawan. Aku sudah mati sejak dulu. Mati karena cintanya.

"Kau tahu, Mo Chen," bisiknya di telingaku, "semua ini... adalah permainanku sejak awal."

Dia menusukku. Rasa sakitnya tajam, namun tak sepedih pengkhianatan.

Saat mataku mulai meredup, aku melihat senyum di bibirnya. Senyum seorang PEMENANG. Senyum seorang...

Dalang.

Dan di sanalah, di lorong istana yang sunyi, aku mengerti. Aku bukanlah korban. Aku adalah pion. Dan dia, Lianhua, adalah pemain catur yang ulung.

Dan semua yang dia katakan sebelumnya.... kebohongan. Dia mencintaiku. Itu adalah satu satunya kebenaran, tetapi cinta itu gelap, dan penuh obsesi yang membinasakan, dan tidak akan pernah melepaskanku... atau dirinya sendiri.

You Might Also Like: 0895403292432 Distributor Kosmetik_30