Aku Mencintaimu Tanpa Izin, dan Menyesal Tanpa Akhir Hujan gerimis menyelimuti kota Beijing. Di balik jendela kaca apartemenku, lampu-lamp...

Cerita Populer: Aku Mencintaimu Tanpa Izin, Dan Menyesal Tanpa Akhir Cerita Populer: Aku Mencintaimu Tanpa Izin, Dan Menyesal Tanpa Akhir

Cerita Populer: Aku Mencintaimu Tanpa Izin, Dan Menyesal Tanpa Akhir

Cerita Populer: Aku Mencintaimu Tanpa Izin, Dan Menyesal Tanpa Akhir

Aku Mencintaimu Tanpa Izin, dan Menyesal Tanpa Akhir

Hujan gerimis menyelimuti kota Beijing. Di balik jendela kaca apartemenku, lampu-lampu kota tampak bagai kunang-kunang yang berduka. Alunan guqin dari playlist kesukaanku semakin menusuk kalbu. Lagu itu, persis seperti perasaanku: lirih, pedih, dan penuh penyesalan.

Dulu, aku, Lin Wei, adalah putri tunggal keluarga Lin yang kaya raya. Hidupku dipenuhi kemewahan, namun hatiku kosong. Hingga aku bertemu dengannya, Zhang Hao. Senyumnya hangat, tatapannya teduh. Aku jatuh cinta TANPA IZIN. Aku rela melakukan apa saja untuknya, termasuk mengabaikan peringatan ayahku.

Ayahku selalu berkata, "Zhang Hao bukan orang yang tepat untukmu, Wei'er. Dia punya sesuatu yang disembunyikan."

Aku membantah. Aku buta. Aku percaya cintaku akan mengubah segalanya.

Lalu, pernikahan itu terjadi. Pesta mewah. Gaun pengantin impian. Namun, kebahagiaan itu sementara.

Aku mulai melihat retakan. Senyum Zhang Hao semakin jarang. Tatapannya semakin dingin. Dia sering menghilang tanpa kabar, kembali dengan aroma parfum asing yang menusuk hidung.

Aku tahu. Aku tahu dia mengkhianatiku.

Tapi aku diam. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku menyimpan rahasia. Sebuah rahasia yang bisa menghancurkan segalanya, termasuk keluarga Lin. Rahasia tentang perjanjian bisnis ayahku yang gelap, yang melibatkan Zhang Hao dan keluarga Zhang.

Dan inilah misterinya: mengapa Zhang Hao memilihku? Mengapa dia, pewaris Grup Zhang yang kaya raya, mau menikahi seorang wanita yang menyimpan rahasia kelam keluarganya?

Aku tahu, pernikahan ini adalah sandiwara. Tapi aku tidak tahu apa peran yang harus kumainkan.

Waktu terus berjalan. Setiap hari terasa seperti siksaan. Aku melihat Zhang Hao semakin jauh dariku, semakin dekat dengan wanita lain. Aku mendengar bisikan-bisikan tentang perselingkuhannya di antara para pelayan. Aku merasakan sakit yang tak tertahankan.

Namun, aku tetap diam. Aku menelan semua kepedihan itu dalam-dalam. Aku menunggu.

Kemudian, tiba saatnya. Ayahku meninggal dunia. Perusahaan keluarga Lin dilanda krisis. Aku tahu, inilah saatnya Zhang Hao menunjukkan kartu trufnya.

Dia datang menemuiku malam itu. Matanya dingin, tanpa emosi. Dia mengaku, dia menikahi aku hanya untuk mendapatkan informasi tentang bisnis ilegal ayahku. Dia ingin menghancurkan keluarga Lin, sebagai balas dendam atas masa lalunya.

Aku tersenyum pahit. "Aku tahu."

Dia terkejut. "Kau tahu?"

"Ya. Sejak awal. Aku tahu ayahmu, Zhang Xiong, adalah korban dari penipuan ayahku. Aku tahu kau ingin membalas dendam."

Wajah Zhang Hao pucat pasi. Dia tidak menyangka aku tahu segalanya.

"Lalu, kenapa kau diam?"

Aku menatapnya dalam-dalam. "Karena aku mencintaimu. Aku berharap cintaku bisa mengubahmu. Tapi ternyata, aku salah."

Aku menyerahkan semua bukti kejahatan ayahku kepada pihak berwenang. Aku rela kehilangan segalanya, asalkan keadilan ditegakkan.

Zhang Hao ditangkap. Keluarga Zhang hancur. Aku kehilangan segalanya: cinta, keluarga, harta.

Tapi aku tidak menyesal. Aku lebih baik kehilangan segalanya daripada hidup dalam kebohongan.

Beberapa tahun kemudian, aku mendengar kabar tentang Zhang Hao. Dia dipenjara, hidupnya hancur berantakan.

Aku tidak merasa senang. Aku hanya merasa kosong.

Kini, aku hidup sederhana di sebuah desa kecil. Aku melukis, bermain guqin, dan menikmati kedamaian. Kadang-kadang, aku masih memikirkan Zhang Hao. Aku bertanya-tanya, apakah dia menyesal?

Misteri tentang mengapa Zhang Hao memilihku akhirnya terpecahkan. Dia tidak hanya ingin balas dendam. Dia juga mencintaiku. Dia mencintaiku, namun dendamnya lebih besar dari cintanya.

Aku mencintainya tanpa izin, dan menyesal tanpa akhir. Takdir memang berbalik arah, pahit namun indah. Aku membiarkan balas dendam hadir tanpa kekerasan.

Dan inilah akhirnya: takdir telah menghukumnya, dan juga menghukumku, dengan cara yang paling menyakitkan. Aku tahu satu hal, cintaku padanya bagaikan sungai yang tak pernah berhenti mengalir, bahkan setelah banjir bandang melanda...

You Might Also Like: Agen Kosmetik Jualan Online Mudah Di

0 Comments: