Senyum yang Menyimpan Luka Terdalam
Lorong istana itu sunyi, hanya gemerisik sutra Hanfu panjang yang menyapu lantai marmer dingin yang memecah keheningan. Kabut tipis menyusup dari jendela berukir naga, membuat siluet patung-patung perunggu tampak menari dalam remang cahaya. Di ujung lorong, berdiri seorang pria. Wajahnya pucat, nyaris transparan, diterangi seberkas cahaya bulan. Ia bagai hantu yang kembali dari alam baka.
"Xiao Wang?" bisik Putri Mei Lian, suaranya bergetar. Ia mendekat, ragu-ragu, seolah takut sentuhan akan membuatnya menghilang.
Xiao Wang, yang seharusnya tewas dalam pemberontakan lima tahun lalu, menatapnya dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Senyum itu MENYESAKKAN.
"Putri," sapanya, suaranya serak seperti desiran angin di puncak gunung. "Lama tak berjumpa."
"Kau...kau hidup? Bagaimana?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, lepas kendali seperti air bah.
"Kematian hanyalah sebuah persiapan," jawab Xiao Wang, matanya menyorot tajam. "Persiapan untuk menghadapi kenyataan yang lebih pahit."
Mei Lian mundur selangkah. Ia merasakan hawa dingin menjalar di tulang punggungnya. "Kenyataan apa?"
"Kenyataan bahwa kau, Putri, adalah dalang di balik semuanya."
Mata Mei Lian membulat. "Apa yang kau katakan? Aku...aku tidak mengerti."
Xiao Wang tertawa pelan. Tawa itu lirih, namun terasa seperti guntur di telinga Mei Lian. "Jangan berpura-pura, Putri. Aku tahu segalanya. Aku tahu siapa yang menyuruh membunuh ayahku, aku tahu siapa yang menghasut pemberontakan, dan aku tahu siapa yang mengirimku ke jurang kematian."
"Ini fitnah! KEJI!" Mei Lian berteriak, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa terjebak dalam mimpi buruk.
"Fitnah?" Xiao Wang mendekat, langkahnya tenang dan pasti. Ia meraih dagu Mei Lian, memaksanya menatap matanya. "Lihatlah dirimu, Putri. Kau adalah simbol kepolosan dan kebaikan hati. Namun di balik senyum manis itu, bersembunyi hati yang busuk dan penuh perhitungan."
Mei Lian berusaha melepaskan diri, namun cengkraman Xiao Wang terlalu kuat. Ia bisa merasakan kematian mengintai di setiap kata yang diucapkannya.
"Lima tahun aku hidup dalam kegelapan, Putri. Lima tahun aku merencanakan balas dendam. Dan sekarang, saatnya kau membayar semua yang telah kau lakukan."
Xiao Wang melepaskan dagu Mei Lian, lalu berbalik, berjalan menjauh. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak dan menoleh. Senyumnya kini lebar, MEMATIKAN.
"Kau pikir aku adalah korban, Putri? Kau salah. Aku yang menulis naskah ini, dan kau hanyalah wayang dalam pertunjukanku. Semua ini, adalah rencanaku sejak awal."
You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Dicakar Cendrawasih
0 Comments: