Langit Jakarta, era digital ini, lebih sering menampilkan error daripada bintang. Sinyal hilang timbul, seperti denyut jantung yang sekarat. Di tengah kekacauan itu, Renjana, si perancang mimpi masa depan, merindukan seseorang yang bahkan belum pernah ia temui.
"Sedang mengetik..."
Notifikasi itu menggantung, abadi, di layar ponselnya. Nama di atasnya: Aksara. Seorang ghost writer puisi dari tahun 2045, ketika kopi masih terasa pahit dan cinta sejati adalah mitos yang dijual dengan harga selangit.
Renjana hidup di 2145. Dunia masa depannya adalah labirin cyberpunk, di mana manusia terhubung ke metaverse untuk melarikan diri dari kenyataan yang memuakkan. Ia menemukan Aksara melalui sebuah aplikasi wormhole yang seharusnya menghubungkannya dengan server arsip lama. Tapi, entah bagaimana, aplikasi itu malah membawanya ke Aksara.
Aksara, di sisi lain, terperangkap dalam nostalgia. Ia menulis tentang hujan, tentang sentuhan kulit, tentang hal-hal analog yang sudah lama dilupakan. Ia mengirim pesan dengan harapan ada yang mendengarkan gema hatinya di tengah bisingnya dunia yang semakin AI.
"Halo? Apakah ada di sana? Apakah kamu merasakan apa yang kurasakan?"
Pesan-pesan Aksara selalu tiba di layar Renjana dalam bentuk pecahan kode, yang harus ia dekripsi satu per satu. Prosesnya menyakitkan, seperti mengorek luka lama yang belum sembuh. Namun, Renjana kecanduan rasa sakit itu. Mungkin karena itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup.
Mereka berbicara tentang rasa sakit. Aksara tentang sakitnya kehilangan masa lalu, Renjana tentang sakitnya masa depan tanpa harapan. Mereka saling berbagi kerinduan, meski terpisah satu abad. Cinta mereka tumbuh subur di tanah tandus disfungsi digital. Sebuah cinta absurd, hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah merasakan pahitnya KEHILANGAN.
Suatu malam, di tengah badai matahari yang mengancam memadamkan seluruh jaringan digital, Aksara mengirim sebuah pesan terakhir. Pesan itu tidak terenkripsi, polos, namun menusuk jantung Renjana.
"Renjana... aku tahu kenapa kita terhubung."
Ia melanjutkan: "Kita bukan hanya terpisah waktu. Kita terpisah dimensi. Kamu adalah ECHO dari diriku yang mati sebelum sempat mencintai. Dan aku... adalah BAYANGAN dari masa depanmu yang tidak akan pernah terjadi."
Seketika, layar ponsel Renjana berkedip. Sinyal hilang. Aplikasi wormhole mati. Aksara menghilang.
Renjana menatap langit Jakarta yang penuh error. Ia tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa Aksara benar. Cinta mereka hanyalah gema, sebuah LOOPING tak berujung dari kehidupan yang tak pernah selesai. Mereka terikat, bukan oleh takdir, tapi oleh rasa sakit yang sama.
Dan kemudian, sebuah pesan terakhir, dari sumber yang tidak dikenal, muncul di layar yang nyaris padam:
"Jangan lupakan aku, meski kita tidak pernah ada…"
You Might Also Like: Jual Skincare Yang Cocok Untuk Semua
0 Comments: