Janji yang Menjadi Doa Terakhir Malam itu, hujan mengguyur Kota Kekaisaran layaknya air mata langit. Cahaya lentera yang bergoyang di Pavi...

Cerpen Keren: Janji Yang Menjadi Doa Terakhir Cerpen Keren: Janji Yang Menjadi Doa Terakhir

Cerpen Keren: Janji Yang Menjadi Doa Terakhir

Cerpen Keren: Janji Yang Menjadi Doa Terakhir

Janji yang Menjadi Doa Terakhir

Malam itu, hujan mengguyur Kota Kekaisaran layaknya air mata langit. Cahaya lentera yang bergoyang di Paviliun Anggrek hanya mampu menembus pekatnya kabut yang menyelimuti danau. Di dalam paviliun, Li Wei, dengan jubah sutra putih yang ternoda lumpur, duduk bersimpuh menghadap danau. Jemarinya yang lentik memetik senar guqin, menghasilkan melodi pilu yang senada dengan rintik hujan.

Dulu, melodi ini adalah simfoni cinta untuknya dan Pangeran Ketiga, Chen Yi. Dulu, janji-janji terukir indah di bawah rembulan yang sama. Dulu, ia percaya pada takdir yang mempertemukan mereka. Kini, hanya KEHANCURAN yang tersisa.

Chen Yi, dengan jubah naga emasnya yang megah, menikahi Putri Ming Yue dari Kerajaan Utara, demi aliansi politik. Li Wei, yang mengandung benih cintanya, hanya bisa menelan kepedihan dalam diam. Bukan karena ia lemah, bukan karena ia tak mampu melawan. Ia menyimpan rahasia yang lebih besar dari cintanya sendiri, rahasia yang bisa mengguncang fondasi kekaisaran.

Ia adalah keturunan terakhir Klan Penyihir Bulan, penjaga keseimbangan dunia. Janji para leluhurnya mengikatnya untuk menjaga PUSAKA TERLARANG, sebuah artefak kuno yang mampu menghancurkan atau membangun kerajaan. Jika Chen Yi tahu, ia takkan ragu untuk merebutnya.

Li Wei tak pernah berencana untuk membalas dendam. Ia hanya ingin melindungi rahasia itu, melindungi putranya yang belum lahir, yang mewarisi darah penyihir dan darah naga. Namun, takdir punya caranya sendiri.

Ming Yue, dengan senyum manisnya, mulai menunjukkan taringnya. Ia mencurigai Li Wei, merasakan aura mistis yang menguar dari wanita itu. Ia berusaha mencari tahu masa lalu Li Wei, membongkar satu demi satu kebohongan yang disembunyikan dengan rapi.

Suatu malam, Ming Yue menyusup ke kediaman Li Wei. Ia menemukan sebuah kotak kayu berukir naga dan bulan. Di dalamnya, terbaring sebilah belati perak dengan ukiran aneh. Ketika ia menyentuhnya, penglihatan mengerikan melintas di benaknya: kehancuran kerajaan, kematian Chen Yi, dan seorang anak laki-laki dengan mata bulan sabit yang memerintah dengan tangan besi.

KETAKUTAN melumpuhkan Ming Yue. Ia tahu, belati itu adalah kunci untuk mengaktifkan pusaka terlarang. Ia memutuskan untuk membunuh Li Wei, menghancurkan ancaman itu sebelum tumbuh dewasa.

Namun, takdir kembali berbalik. Malam itu, Ming Yue terpeleset di tangga istana dan kehilangan nyawanya. Kematiannya membuka jalan bagi Li Wei untuk melahirkan putranya, Pangeran Ying, tanpa halangan.

Beberapa tahun berlalu. Chen Yi, dilanda kesedihan dan penyesalan, mengangkat Ying sebagai putra mahkota. Ying tumbuh menjadi pemuda yang bijaksana dan kuat, dicintai rakyatnya. Ia membawa kemakmuran bagi kekaisaran, memulihkan keseimbangan yang sempat hilang.

Li Wei, di usia senjanya, memandang putranya dari kejauhan. Ia tahu, janji para leluhurnya telah ditepati. Pusaka terlarang tetap aman, dan takdir telah menggariskan jalan yang lebih baik. Ia memejamkan mata, menghembuskan napas terakhirnya dengan senyum di bibir.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia berbisik, "Semoga takdir tak pernah lupa, cinta sejati kadang bersembunyi di balik KEHENINGAN..."

You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama Bisnis

0 Comments: