Baiklah, inilah cerita pendek bergaya dracin dengan suasana yang Anda inginkan: **Aku Menatap Lukisanmu, dan Warna Darahnya Masih Baru** Hening. Malam membungkus kediamanku seperti kain sutra hitam. Di luar, angin mendesah lirih, seolah menirukan alunan *guqin* yang tak kunjung usai dalam hatiku. Mataku terpaku pada lukisan di hadapanku. Lukisanmu, Lan Wangji. Dulu, lukisan ini adalah simbol cinta kita. Dua angsa putih terbang menuju matahari terbenam, dilukis dengan tanganmu sendiri. Sekarang, setetes warna merah pekat menodai kanvas di bawah angsa-angsa itu. Warna darah. Pengkhianatanmu adalah pisau yang menusuk jantungku. Bukan karena kau memilih orang lain, bukan karena kau mengingkari janji. Tapi karena… alasannya. Alasan yang takkan pernah kubuka kepada siapapun. Rahasia yang kupendam dalam-dalam, lebih dalam dari sumur tanpa dasar. Kau pikir aku lemah karena diam? Kau salah. Aku punya kekuatan yang tak kau bayangkan. Kekuatan untuk menahan diri. Kekuatan untuk membiarkan *TAKDIR* bekerja dengan caranya sendiri. Dulu, aku menemukan surat tanpa nama di antara tumpukan buku di perpustakaan istana. Isinya… peringatan. Peringatan tentang konspirasi yang akan mengguncang kerajaan. Konspirasi yang melibatkan orang-orang *TERDEKAT* denganmu. Aku memilih diam, karena jika aku mengungkapkannya, kau akan terluka. Lebih parah dari yang bisa kubayangkan. Aku tahu, dengan memilih diam, aku akan kehilanganmu. Tapi aku lebih memilih kehilanganmu daripada melihatmu hancur. Beberapa tahun kemudian, kau menikah dengan wanita pilihanmu. Aku menghadiri pernikahan itu, tersenyum palsu, dan memberikan hadiah. Sebuah kotak musik antik yang kusimpan sejak kecil. Musiknya indah, namun menyimpan *RAHASIA*. Kau tahu, Lan Wangji, kotak musik itu diprogram untuk melepaskan racun mematikan. Racun yang hanya bereaksi pada satu jenis darah. Darah keturunan keluarga kerajaan… dan *darah orang yang terlibat dalam konspirasi*. Beberapa bulan kemudian, penyakit misterius merenggut nyawa beberapa bangsawan terkemuka. Termasuk… istrimu. Kau tentu saja tidak tahu bahwa penyebabnya adalah kotak musik itu. Kau tidak akan pernah tahu bahwa kematian mereka adalah *BALAS DENDAM* tanpa kekerasan. Balas dendam yang dipersembahkan oleh takdir. Sekarang, aku menatap lukisanmu. Warna darahnya masih baru. Dan aku tahu, ini belum berakhir. Ada satu orang lagi yang harus membayar. Seseorang yang berdiri di balik semua ini. Seseorang yang *KAU* sangat percayai. Kau akan tahu siapa dia, Lan Wangji. Pada saat yang tepat. Pada saat dimana *KEBENARAN* akan terungkap. Aku tersenyum pahit. Takdir memang kejam, namun indah. Karena kadang, keadilan tak harus ditegakkan dengan tangan sendiri. Angin bertiup semakin kencang. Alunan *guqin* terdengar semakin lirih. Aku berbalik, meninggalkan lukisan itu. Dan aku tahu, suatu hari nanti, kau akan mengerti... *...bahwa diamku adalah cinta yang paling menyakitkan.*
You Might Also Like: Unveiling Odorous Truth Water Bottle
0 Comments: