Baik, ini dia kisah dracin dengan judul "Aku Menunggu Pagi, Tapi Yang Datang Hanya Kabar Kematianmu": **Aku Menunggu Pagi, Tapi ...

Seru Sih Ini! Aku Menunggu Pagi, Tapi Yang Datang Hanya Kabar Kematianmu. Seru Sih Ini! Aku Menunggu Pagi, Tapi Yang Datang Hanya Kabar Kematianmu.

Seru Sih Ini! Aku Menunggu Pagi, Tapi Yang Datang Hanya Kabar Kematianmu.

Seru Sih Ini! Aku Menunggu Pagi, Tapi Yang Datang Hanya Kabar Kematianmu.

Baik, ini dia kisah dracin dengan judul "Aku Menunggu Pagi, Tapi Yang Datang Hanya Kabar Kematianmu": **Aku Menunggu Pagi, Tapi Yang Datang Hanya Kabar Kematianmu** Cahaya fajar *enggan* menyapa Kota Terlarang. Awan kelabu bergelayut, seolah menahan tangis yang tak tertahankan. Di paviliun terpencil, Xiao Yue, putri bungsu kaisar, duduk bersimpuh di depan altar leluhur. Aroma dupa pahit menusuk hidung, senada dengan getir di hatinya. Sepucuk surat tergeletak di pangkuannya. Kabar dari medan perang. Kabar tentang kematiannya. Jenderal Lin Chen. Satu-satunya pria yang pernah berani memandangnya bukan sebagai putri, melainkan sebagai wanita. *Seratus tahun lalu*, mereka terikat janji. Janji terlarang. Janji antara seorang putri dinasti sebelumnya dan seorang panglima perang yang ambisius. Sebuah janji yang mengkhianati kaisar, negaranya, dan mungkin... takdir itu sendiri. Xiao Yue menyentuh liontin giok berbentuk bunga *Peoni*, pusaka keluarga Lin. Dulu, Lin Chen memberikannya sebelum pergi berperang. "Simpan ini, Yue'er. Sampai kita bertemu lagi, di kehidupan selanjutnya." Ia tertawa getir. Kehidupan selanjutnya? Setelah dosa yang mereka lakukan? Mereka pantasnya menerima neraka abadi. Namun, mimpi-mimpinya membisikkan hal lain. Potongan-potongan memori yang bukan miliknya. Kilas balik pertempuran berdarah, tatapan penuh cinta dan pengkhianatan, bisikan janji di bawah rembulan purnama. Semua tentang dirinya dan Lin Chen. Di kehidupan ini, ia terlahir sebagai putri yang terkurung di istana. Lin Chen? Ia terlahir kembali sebagai jenderal yang gagah berani. Namun, takdir kembali mempermainkan mereka. Mereka tak pernah bertemu. Hingga surat kematian itu tiba. Musim semi tiba. Bunga Peoni di taman istana bermekaran dengan *ganas*. Wanginya memabukkan, seperti aroma parfum yang selalu dipakai Lin Chen di kehidupannya yang dulu. Xiao Yue berjalan melewati taman, hatinya hancur berkeping-keping. Tiba-tiba, ia berhenti. Sebuah suara. Familiar. Dalam dan berat, seperti suara gamelan yang berdentang di kejauhan. "Yue'er..." Xiao Yue berbalik. Di sana, berdiri seorang pria. Bukan Lin Chen. Pria itu adalah *Qing Yue*, seorang cendekiawan muda yang baru saja diangkat menjadi penasihat kaisar. Namun, matanya... matanya sama persis dengan mata Lin Chen. Qing Yue menatapnya dengan intens. "Aku... aku bermimpi aneh akhir-akhir ini. Tentang peperangan, tentang janji yang dilanggar, tentang seorang putri yang menunggu." Xiao Yue menelan ludah. Apakah ini mungkin? Reinkarnasi? Tapi bagaimana mungkin? Perlahan, misteri masa lalu mereka terungkap. Percakapan demi percakapan, mimpi demi mimpi. Mereka berdua adalah reinkarnasi dari Putri Yue dan Jenderal Lin Chen. Dosa mereka di masa lalu, pengkhianatan mereka, telah membuat mereka terpisah selama seratus tahun. Lin Chen, yang dulu ambisius dan haus kekuasaan, telah menghancurkan dinasti sebelumnya untuk merebut takhta. Putri Yue, yang seharusnya menjadi simbol kesetiaan dan pengabdian, justru bersekongkol dengan Lin Chen, demi cinta dan kebebasannya. Kebenaran pahit itu menghantam Xiao Yue seperti badai. Bagaimana ia bisa mencintai seorang pengkhianat? Bagaimana ia bisa memaafkan dosa sebesar itu? Namun, ia tak membalas dendam dengan kemarahan. Ia memilih *keheningan*. Ia memaafkan Lin Chen, memaafkan dirinya sendiri, memaafkan takdir yang telah mempermainkan mereka. Ketika Qing Yue/Lin Chen akhirnya meninggal karena penyakit, Xiao Yue hanya berdiri di samping ranjangnya. Tanpa air mata, tanpa amarah. Hanya *pengampunan*. Pengampunan yang lebih menyakitkan dari pedang terhunus. Ia menatap langit kelabu. Kabut pagi mulai menyebar. Mungkin, di kehidupan selanjutnya, mereka akan bertemu dalam damai. Mungkin, mereka bisa mencintai tanpa dosa. Xiao Yue memegang erat liontin giok itu. Bisikan dari kehidupan sebelumnya menggema di benaknya: "...*Peoni akan terus mekar, Yue'er. Sampai kita menemukan kedamaian yang sejati*..."
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Lokal Untuk

0 Comments: