**Kau Memeluk Buku yang Kuberikan, Seolah di Dalamnya Ada Perasaanku** Dunia manusia hanyalah cermin buram bagi dunia roh, pikir Mei Lian,...

Drama Abiss! Kau Memeluk Buku Yang Kuberikan, Seolah Di Dalamnya Ada Perasaanku Drama Abiss! Kau Memeluk Buku Yang Kuberikan, Seolah Di Dalamnya Ada Perasaanku

Drama Abiss! Kau Memeluk Buku Yang Kuberikan, Seolah Di Dalamnya Ada Perasaanku

Drama Abiss! Kau Memeluk Buku Yang Kuberikan, Seolah Di Dalamnya Ada Perasaanku

**Kau Memeluk Buku yang Kuberikan, Seolah di Dalamnya Ada Perasaanku** Dunia manusia hanyalah cermin buram bagi dunia roh, pikir Mei Lian, gadis yang kematiannya di dunia fana dianggap sebagai akhir, padahal hanyalah permulaan. Di dunia roh, ia terbangun di tepi Sungai Jiwa, lentera-lentera *mengambang* di atas air, masing-masing memancarkan cahaya selembut bisikan. Bayangan-bayangan *berbicara*, bukan dengan suara, melainkan dengan isyarat dan kilasan memori yang menusuk kalbu. "Mei Lian," bisik bulan, satu-satunya saksi bisu yang *mengingat* namanya, nama yang telah lama dilupakan di dunia manusia. Ia mendapati dirinya di Puncak Awan, sebuah perpustakaan raksasa yang dindingnya terbuat dari kristal dan rak-raknya dipenuhi buku-buku berusia ribuan tahun. Setiap buku adalah *catatan* sebuah jiwa, kisah cinta dan pengkhianatan, harapan dan keputusasaan, takdir yang terjalin rumit seperti akar pohon kuno. Seorang pria bernama Bai Yue menemuinya. Matanya sehangat senja, suaranya semerdu kecapi. Dialah penjaga perpustakaan, dan dialah yang memberinya sebuah buku bersampul biru langit. "Kau harus membacanya, Mei Lian," ucap Bai Yue, senyumnya menyimpan rahasia yang mendalam. "Di dalamnya ada *takdirmu*." Buku itu menceritakan kisah seorang putri dari dunia roh yang terlempar ke dunia manusia dan mati muda. Kisahnya identik dengan Mei Lian. Semakin ia membaca, semakin ia merasa ada benang merah yang menghubungkannya dengan putri itu. Di dunia manusia, Mei Lian dikenal sebagai gadis biasa, namun di dunia roh, ia adalah *REINKARNASI* seorang putri yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan takdir. Kekuatannya disegel, dan kematiannya di dunia manusia adalah cara untuk membangkitkan kekuatan itu. Tapi, ada yang *tidak beres*. Bayangan-bayangan mulai berbisik lebih keras, lentera-lentera di Sungai Jiwa berkedip-kedip gelisah, dan bulan tampak *bersembunyi* di balik awan. Mei Lian mulai meragukan Bai Yue. Mengapa ia begitu ingin ia membaca buku itu? Mengapa ia begitu yakin bahwa di dalamnya ada takdirnya? Suatu malam, Mei Lian menemukan sebuah lorong rahasia di perpustakaan. Di dalamnya, ia menemukan cermin yang menghubungkannya dengan dunia manusia. Di cermin itu, ia melihat seorang pria yang familiar, seorang *mantan* kekasihnya. Ia memeluk sebuah buku bersampul biru langit, *buku yang sama* yang diberikan Bai Yue padanya. "Kau memeluk buku itu, seolah di dalamnya ada perasaanku," gumam Mei Lian, matanya berkaca-kaca. Ia menyadari, bukan Bai Yue yang mencintainya, melainkan pria itu. Pria yang ia tinggalkan di dunia manusia, pria yang ternyata memiliki *ikatan* dengannya di dunia roh. Namun, siapa yang memanipulasi takdirnya? Siapa yang mengirimnya ke dunia roh? Jawaban datang dalam bentuk bayangan Bai Yue, yang ternyata adalah *IBLIS*, yang ingin menggunakan kekuatan Mei Lian untuk menaklukkan dunia roh. Buku itu hanyalah umpan, cara untuk mengendalikan pikirannya. Di akhir pertarungan sengit, Mei Lian berhasil mengalahkan Bai Yue. Ia menggunakan kekuatannya untuk membuka gerbang antara dunia manusia dan dunia roh, memberikan kesempatan bagi pria yang dicintainya untuk bertemu dengannya. "Kita akan bertemu lagi," bisik Mei Lian pada pria itu, air matanya menetes. Gerbang itu tertutup, meninggalkan Mei Lian di dunia roh, dengan takdir yang *BELUM* sepenuhnya terungkap. *Seperti benang takdir yang terurai, cinta sejati akan selalu menemukan jalannya kembali, bahkan melintasi dua dunia.*
You Might Also Like: Drama Baru Janji Yang Diucapkan Di

0 Comments: