Aku Menunggumu di Altar, Tapi Waktu Menelan Janji Kita
Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya ke lantai marmer yang mengkilap, menerangi gaun putihku. Setiap jahitan, setiap manik-maniknya, dipilih dengan cinta dan harapan. Di altar ini, aku menunggumu, Xián. Jantungku berdebar kencang, bukan karena gugup, tapi karena keyakinan yang nyaris sempurna.
Senyumku mungkin menipu mata orang lain, terlihat cerah dan bahagia. Tapi di balik lapisan riasan mahal, tersembunyi badai yang bergejolak. Aroma bunga lili yang seharusnya menenangkan, kini terasa menyesakkan. Waktu terus merangkak, jarum jam berputar dengan kejamnya, menelanjangi harapanku satu demi satu.
Bayanganmu tak kunjung tiba.
Pesan demi pesan yang kukirim tak berbalas. Panggilan teleponku hanya disambut operator. Di tengah kebisingan musik klasik yang diputar, aku mendengar keheningan yang memekakkan telinga.
Kenangan kita melintas bagai film bisu. Pelukanmu, dulu terasa hangat dan melindungi, kini kurasakan bagai racun yang perlahan membunuh. Janji-janjimu, yang dulu terukir indah di hatiku, kini berubah menjadi belati yang menusuk tanpa ampun.
Xián, di mana kamu?
Kabarnya beredar seperti angin malam. Kamu terlihat di Paris, bersama wanita lain. Rambutnya pirang, tawanya renyah, senyumnya... persis seperti yang dulu kau berikan padaku. Hatiku hancur berkeping-keping.
Tapi aku, Li Wei, tidak akan menangis.
Aku menarik napas dalam-dalam, memaksakan senyum yang lebih meyakinkan. Aku mengangkat gelas champagne yang sejak tadi terabaikan. "Untuk kebahagiaan," ucapku lantang, menenggak isinya sampai tandas.
Beberapa tahun kemudian.
Aku berdiri di balkon, menatap gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Perusahaanmu, Xián, kini berada di bawah kendaliku. Sahamnya anjlok, reputasinya hancur, dan kamu... Kamu kehilangan segalanya.
Kudengar kamu kembali ke kota ini, mencoba meminta ampun. Mencari kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu. Tapi pintu perusahaan ini tertutup rapat untukmu.
Aku tidak akan membunuhmu, Xián. Aku tidak akan mengotori tanganku dengan darah. Balas dendamku lebih manis dari itu. Aku akan membuatmu menyesal setiap detik, setiap jam, setiap hari dalam hidupmu. Aku akan membuatmu merasakan kehancuran yang sama seperti yang kurasakan dulu.
Aku tahu kamu sedang mengawasi dari kejauhan. Aku bisa merasakannya.
Aku tersenyum tipis, menikmati pemandangan kota yang terbentang di bawahku. Hidup ini indah, Xián. Terlalu indah untuk disia-siakan dengan kebencian.
Aku berbalik, meninggalkan balkon. Meninggalkanmu dalam penyesalan abadi.
Namun, di balik pintu, air mata akhirnya jatuh.
Cinta dan dendam... lahir dari tempat yang sama, bukan?
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Pencerah Wajah
0 Comments: