Hujan gerimis membasahi Shanghai, memantulkan neon kota yang berkedip-kedip di aspal. Aroma xiaolongbao dan nostalgia menguar di udara, membawa kenangan pahit seperti ampas teh yang tertinggal di dasar cangkir. Aku berdiri di seberang jalan, tersembunyi di balik pilar megah The Bund. Dari sini, aku bisa melihatnya.
Li Wei.
Dulu, hanya dengan menyebut namanya saja, dadaku berdebar kencang, seperti guzheng yang dipetik dengan tergesa. Dulu, matanya adalah kompas yang menuntunku pulang, senyumnya adalah matahari di musim dingin. Dulu, aku pernah jadi dunianya.
Kini, ia berdiri di pintu restoran mewah, menggandeng seorang wanita. Gaun sutra merahnya menjuntai anggun, rambutnya disanggul rapi. Ia tertawa, suara yang familiar sekaligus asing. Ia menatap wanita itu dengan tatapan yang dulu hanya menjadi milikku.
Saat itu, ia menoleh. Mata kami bertemu.
Sesaat, waktu berhenti. Lalu lintas membeku. Aroma kota lenyap. Hanya ada kami, dipisahkan oleh lautan manusia dan sungai air mata. Tapi, di matanya… KOSONG.
Ia menatapku seolah aku hanyalah seorang pejalan kaki asing, seolah aku bukan gadis yang pernah bersumpah akan menemaninya seumur hidup. Seolah aku bukan Xiao Mei, yang rela melepaskan mimpinya demi mendukung ambisinya. Seolah aku bukan DUNIANYA.
Lima tahun lalu, di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran, ia berjanji. Janji yang diukir di hatiku, janji yang menjadi sumpah setia. Ia berjanji akan meraih kesuksesan bersamaku, bukan tanpaku. Ia berjanji, sekeras apapun badai menerjang, ia akan selalu menggenggam tanganku.
Li Wei, kau berbohong.
Penghianatannya menghancurkanku. Aku pergi, membawa serta hati yang remuk redam dan mimpi yang terkubur dalam-dalam. Aku membangun diriku kembali, satu demi satu batu bata rasa sakit. Aku menjadi wanita yang kau ingkari. Kuat. Independen. Berbahaya.
Dan sekarang, takdir mempertemukan kita kembali. Bukan sebagai kekasih, bukan sebagai teman, tapi sebagai pemain dalam sebuah permainan yang baru saja dimulai. Aku mendengar desas-desus tentang masalah keuangan perusahaannya. Aku mendengar tentang kontrak yang rapuh, tentang investor yang ragu-ragu.
Aku tersenyum tipis.
Perlahan, aku melangkah keluar dari persembunyian. Aku berjalan menuju restoran, aura percaya diri terpancar dari setiap gerakanku. Aku adalah wanita yang berbeda, wanita yang kau ciptakan.
Saat aku melewati mejanya, aku sengaja menjatuhkan syalku. Ia menunduk untuk mengambilnya. Mata kami bertemu lagi. Kali ini, ada sedikit keraguan di matanya, mungkin secuil rasa bersalah. Tapi tetap saja, tak ada pengakuan.
Aku mengambil syalku dari tangannya, jari-jariku menyentuh jarinya. Sentuhan itu dingin.
"Terima kasih," ucapku, dengan nada suara yang datar. Lalu aku melangkah pergi, meninggalkannya terpaku di sana, di bawah sorot lampu yang menyilaukan.
Sebentar lagi, Li Wei, kau akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya. Kau akan mengerti arti sebuah janji yang dilanggar, sebuah penyesalan yang tak bisa ditebus. Aku tidak akan mengotori tanganku, biarkan takdir yang menuntut keadilan… atau mungkin, hanya sedikit bantuan dariku.
Apakah ini cinta yang berubah menjadi dendam, ataukah dendam yang berakar dari cinta yang tak terbalas?
You Might Also Like: Kenapa Harus Rekomendasi Skincare Lokal
0 Comments: