Judul: Ratu dan Ombak yang Menghapus Masa Lalu
Lorong istana itu SUNYI. Hembusan angin dingin merayapi sutra merah yang memudar, membisikkan kisah-kisah pengkhianatan dan ambisi yang terkubur di balik dinding batu. Di ujung lorong, berdiri seorang wanita. Ratu Lian, dengan gaun berkibar diterpa angin laut, memandang lautan yang bergejolak. Rambutnya, sehitam malam, tergerai menutupi sebagian wajahnya yang pucat.
Kabut pegunungan menjulang di kejauhan, menyembunyikan rahasia kelam – rahasia yang berusaha dilupakan sang ratu. Ia berharap gelombang laut yang menghantam karang dapat menghapus masa lalunya yang penuh darah dan pengorbanan.
Tiba-tiba, sebuah suara memecah keheningan. "Anda berdiri di sini lagi, Permaisuri. Mengharapkan laut menjawab pertanyaan yang tak pernah Anda ajukan?"
Ratu Lian berbalik. Sosok itu berdiri di ambang pintu. Pangeran Zhi, adik mendiang kaisar. Dahulu dianggap mati dalam pemberontakan sepuluh tahun lalu, kini ia berdiri tegak, sorot matanya tajam menusuk, penuh dengan pengetahuan.
"Zhi," bisik Ratu Lian, suaranya serak. "Kau... bagaimana mungkin?"
Pangeran Zhi tersenyum tipis. "Kematian adalah ilusi, Permaisuri. Sama seperti kepolosan Anda." Ia melangkah mendekat, aroma cendana dan darah yang samar menguar dari tubuhnya. "Saya kembali untuk mengambil apa yang menjadi hak saya. TAHTA yang direbut dengan darah dan air mata."
"Aku tidak merebut apa pun," balas Ratu Lian, meski tangannya gemetar. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan untuk BERTAHAN."
"Bertahan?" Pangeran Zhi tertawa hambar. "Anda yang memicu pemberontakan, bukan? Anda yang meracuni Kaisar, kakak saya? Semua demi Kekuasaan? Lalu, menyalahkan saya atas semua itu?"
Ratu Lian terdiam. Angin laut berhembus semakin kencang, menerbangkan helaian rambut ke wajahnya. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya, menatap Pangeran Zhi dengan tatapan yang dingin dan mematikan.
"Aku memberimu peran pahlawan yang difitnah, Zhi," bisiknya. "Agar kau bisa menghilang dan merencanakan kebangkitanmu. Bodohnya kau, berpikir aku tidak menyadarinya. Setiap langkahmu, setiap bisikanmu… AKU TAHU."
Pangeran Zhi tertegun. Ekspresinya berubah dari marah menjadi kengerian. "Tidak mungkin…"
Ratu Lian tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku butuh kambing hitam. Aku butuh drama. Dan kau, Zhi, adalah aktor yang sempurna. Orang-orang akan bersimpati padamu, dan mereka akan _membenci_ku. Tapi itu tidak penting. Karena pada akhirnya… AKULAH yang menang."
Ia menatap lautan sekali lagi, ombak menghantam karang dengan ganas.
"Kau pikir aku berdiri di sini untuk melupakan masa lalu? Bukan, Zhi. Aku berdiri di sini untuk mengagumi betapa indahnya aku menciptakan masa depan."
You Might Also Like: Dracin Populer Ia Menulis Cerita
0 Comments: