Tentu saja, inilah kisah dracin intens berjudul 'Cinta yang Kuterima Sebagai Kutukan': **Cinta yang Kuterima Sebagai Kutukan** Malam di Gunung Salju Naga adalah malam abadi. Udara menusuk tulang, dan salju berdarah di bawah pijakan kaki. Di kuil terpencil, di mana dupa mengepul dan menari seperti arwah penasaran, Lian Hua bersimpuh. Air matanya membeku di pipi, sepedih pecahan kaca. "Mengapa?" bisiknya, suaranya nyaris tenggelam dalam lolongan angin. Di hadapannya, berdiri Bai Jun, pria yang dicintainya lebih dari napasnya sendiri. Pria yang juga mewarisi **BENCI** yang membara dari leluhurnya. Mata Bai Jun, biasanya sehangat mentari pagi, kini dingin dan kelam bagai jurang tak berdasar. "Karena kau adalah keturunan keluarga Liu," jawab Bai Jun, suaranya serak. "Keluarga yang menghancurkan keluarga Bai." Lian Hua terisak. "Tapi... tapi kita saling mencintai! Janji kita..." Bai Jun tertawa pahit. "Janji di atas abu. Kata-kata kosong yang diucapkan oleh dua orang bodoh yang dibutakan oleh **NAFSU!**" Dulu, di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran, mereka berjanji untuk selamanya. Lian Hua, dengan senyum secerah matahari musim semi, dan Bai Jun, dengan tatapan teduh penuh cinta. Sekarang, hanya ada salju, darah, dan kebencian yang menggunung. *RAHASIA* lama terkuak. Keluarga Liu, keluarga Lian Hua, dituduh mengkhianati keluarga Bai, mencuri pusaka suci dan menyebabkan kematian ratusan jiwa. Kisah itu diceritakan dari generasi ke generasi, menjadi mantra dendam yang merasuki setiap keturunan Bai. Lian Hua menggelengkan kepala. "Itu fitnah! Leluhurku tidak bersalah!" Bai Jun mengangkat pedangnya. Cahaya bulan memantul dari bilahnya yang tajam, menciptakan tarian kematian yang mengerikan. "Kebenaran tidak penting lagi," desisnya. "Hanya ada *BALAS DENDAM*." Pertempuran pun terjadi. Bukan pertempuran pedang dan sihir, melainkan pertempuran hati dan jiwa. Lian Hua, dengan air mata yang tak kunjung berhenti, berusaha meyakinkan Bai Jun. Bai Jun, dengan amarah yang membakar, berusaha memusnahkan semua yang mengingatkannya pada keluarga Liu. Namun, di tengah pertempuran itu, Lian Hua menyadari sesuatu. Bai Jun tidak membencinya. Dia hanya membenci beban warisan yang dipikulnya. Dan Lian Hua tahu, hanya dia yang bisa membebaskan Bai Jun dari kutukan ini. Dengan gerakan cepat, Lian Hua merebut pedang dari tangan Bai Jun dan menusuk dirinya sendiri. Bai Jun terkejut. Matanya membulat. "Lian Hua! **TIDAK!**" Lian Hua tersenyum lemah. Darah mengalir dari mulutnya, mewarnai salju di bawahnya menjadi merah pekat. "Aku mencintaimu, Bai Jun," bisiknya. "Dan aku rela mati agar kau terbebas." Lian Hua roboh ke tanah, matanya terpejam. Bai Jun berlutut di sampingnya, memeluk tubuhnya yang dingin. Ia meraung, raungan putus asa yang membelah kesunyian malam. Dendamnya telah terbalaskan. Keluarga Liu telah lenyap. Namun, kemenangan ini terasa pahit, bagai racun yang merusak setiap sel dalam tubuhnya. Beberapa hari kemudian, Bai Jun berdiri di depan makam Lian Hua. Di tangannya, tergenggam sebuah botol kecil berisi cairan bening. "Kau benar, Lian Hua," bisiknya. "Kebenaran memang tidak penting lagi." Ia membuka botol itu dan meminumnya hingga tandas. ***Balas dendam yang tenang namun mematikan. Balasan dari hati yang terlalu lama menunggu.*** Dan di saat yang sama, jauh di dalam istana tersembunyi, seorang wanita tua tersenyum, mengetahui bahwa benih yang ditanamnya bertahun-tahun lalu akhirnya berbuah – Bai Jun akan menjadi marionette miliknya, selamanya terikat untuk menaklukkan seluruh dunia atas nama keluarga yang seharusnya diakui.
You Might Also Like: Panduan Pembersih Wajah Centella
0 Comments: