## Bayangan yang Menulis Nama di Atas Darah Langit Chengdu, abu-abu permanen, seperti status *online* yang tak pernah benar-benar aktif. Di apartemen kumuh lantai 13, Li Mei mengetuk-ngetuk layar ponselnya. Pesan untuk Zhang Wei, *lagi-lagi*, hanya mentok di 'sedang mengetik...' abadi. Apakah sinyal cinta juga bisa hilang, pikirnya, seperti wifi tetangga yang sering putus nyambung? Li Mei hidup di tahun 2042, era pasca-segala-keteraturan. Listrik sering mati. Hujan asam melubangi atap. Dan hatinya berlubang karena Zhang Wei, yang entah di mana. Di sisi lain dimensi waktu, di sebuah desa berdebu di pedalaman Yunnan tahun 1922, Zhang Wei duduk di bawah pohon kamelia yang mekar sempurna. Di tangannya, selembar kertas usang, di mana ia mencoba menggambar wajah Li Mei. Wajah itu hanya muncul dalam mimpinya, wajah seorang wanita dengan rambut sependek petir dan mata setajam pisau digital. Zhang Wei, seorang guru desa yang bercita-cita menjadi penyair, merasa terhantui. Setiap malam, ia bermimpi tentang dunia baja dan kaca, tentang suara-suara aneh yang keluar dari kotak kecil. Tentang wanita yang memanggil namanya, tapi dengan nada yang aneh, *modern*. Ia mulai menulis puisi untuk Li Mei, puisi tentang *keterputusan* dan *kerinduan* yang tak bisa dijelaskan. Puisi yang ia tulis dengan tinta merah yang ia buat sendiri dari sari buah *lychee* yang dilumatkan. Tinta itu berbau manis, seperti janji palsu. Suatu malam, listrik di apartemen Li Mei padam. Ia menyalakan lilin, aroma lavender murahan yang ia beli di pasar gelap. Di dinding, bayangan menari-nari. Tiba-tiba, bayangan itu berhenti. Bayangan itu mulai menulis. Bukan di dinding. Melainkan di lengannya. Dengan huruf merah menyala, seperti darah yang bergejolak. Nama Zhang Wei. Li Mei menjerit. Bukan karena sakit, tapi karena **KEGELISAHAN**. Ia tahu. Ia selalu tahu. Bahwa Zhang Wei bukan sekadar khayalan, bukan sekadar kesalahan sistem. Ia adalah *e k o* dari masa lalu, hantu dari cinta yang belum sempat dilahirkan. Di Yunnan, Zhang Wei merasakan tusukan di dadanya. Ia ambruk di bawah pohon kamelia, kertas di tangannya basah oleh darah. Ia melihat bayangan Li Mei, menjulur dari masa depan, menjangkau dirinya. Mereka terhubung, bukan oleh teknologi, bukan oleh takdir, tapi oleh *kekosongan*. Kosong yang ditinggalkan oleh perang, oleh kemiskinan, oleh **KETIDAKPASTIAN**. Kosong yang mereka coba isi dengan cinta, cinta yang *mustahil*. Dan kemudian, rahasia itu terungkap. Zhang Wei bukanlah sekadar guru desa. Li Mei bukanlah sekadar wanita kota. Mereka adalah reinkarnasi dari dua jiwa yang terikat dalam *Percobaan Temporal*. Sebuah proyek rahasia di abad ke-22, yang bertujuan untuk memanipulasi waktu. Percobaan itu gagal. Dan mereka, terpecah belah, terlempar ke masa lalu dan masa depan, hanya menyisakan *gema* dari kehidupan yang *tak pernah* selesai. Sebelum kegelapan menelan segalanya, Li Mei menerima satu pesan terakhir. Bukan dari Zhang Wei. Tapi dari sistem yang sekarat. "Jangan percaya *nama* yang mereka berikan padamu…"
You Might Also Like: 7 Fakta Arti Mimpi Disengat Laba Laba
0 Comments: