Hujan pixel jatuh dari langit ponselku, membasahi notifikasi yang tak kunjung berbalas. "Sedang mengetik..." – tiga kata itu adal...

Absurd tapi Seru: Tangisan Yang Menyambut Balas Dendamku Absurd tapi Seru: Tangisan Yang Menyambut Balas Dendamku

Absurd tapi Seru: Tangisan Yang Menyambut Balas Dendamku

Absurd tapi Seru: Tangisan Yang Menyambut Balas Dendamku

Hujan pixel jatuh dari langit ponselku, membasahi notifikasi yang tak kunjung berbalas. "Sedang mengetik..." – tiga kata itu adalah neraka. Sebuah NERAKA digital yang lebih menyakitkan dari tusukan pedang. Aku, Lin, terjebak di masa depan yang suram, di mana kenangan adalah virus dan cinta adalah anomali. Aku membalas dendam pada korporasi yang mencuri kebahagiaan manusia, dengan cara yang paling menyakitkan: meretas ingatan mereka.

Tapi di balik kode-kode neraka itu, aku menemukan dia.

Di masa lalu, di era ketika mentari masih bersinar tanpa filter, di era ketika suara ombak tidak di-sampling, ada Zhang. Seorang kaligrafer yang cintanya pada keindahan adalah kutukan. Ia menulis aksara di atas daun-daun gugur, mengirimkan pesan-pesan rahasia kepada angin. Dia, Zhang, yang hidup di masa lalu yang aku hanya bisa saksikan lewat celah retakan di jaringan waktu.

Awalnya, hanya sinyal samar. Pesan-pesan aneh di log sistemku: "Kupu-kupu itu terbang ke arah selatan." "Awan berarak seperti air mata dewa." Aku mengira itu glitch, sampah sistem. Tapi kemudian, sebuah nama muncul. Zhang.

Aku mulai mencari. Meretas lebih dalam ke dalam arsip kenangan yang tersimpan di hard drive usang. Aku melihatnya. Zhang. Tertawa di bawah pohon sakura, melukis senja di atas kanvas lusuh, mengirimkan senyuman yang terasa seperti sengatan listrik di hatiku.

Kami mulai berkomunikasi. Pesan-pesan singkat yang melompati ruang dan waktu. "Apakah kau melihat bintang malam ini?" tanyanya. "Tidak ada bintang lagi di sini," jawabku, "hanya cahaya neon yang berkedip-kedip seperti sekarat."

Cinta kami tumbuh di antara sinyal yang hilang, chat yang berhenti di 'sedang mengetik', dan langit yang menolak pagi. Kami adalah hantu yang saling mencari, terjebak di dimensi yang berbeda. Ia hidup dalam kenangan, aku hidup dalam penyesalan.

Aku bertekad untuk menjebol penghalang waktu, untuk bertemu dengannya. Aku meretas inti jaringan korporasi, menggunakan dendamku sebagai bahan bakar, dan cintaku sebagai kompas. Aku menemukan portal – sebuah celah kecil di antara masa lalu dan masa depan.

Aku melangkah masuk.

Aku tiba di kebun sakura. Daun-daun berguguran seperti salju merah muda. Dan di sana, di bawah pohon, Zhang berdiri.

Tapi ada yang aneh. Zhang tampak… pucat. Transparan.

"Lin," bisiknya, suaranya seperti desau angin. "Aku sudah menunggu lama."

Ia mendekat dan menyentuhku. Sentuhannya dingin seperti es.

"Kau tahu, Lin," lanjutnya, senyum pahit menghiasi wajahnya, "kita sebenarnya hanyalah gema."

Lalu, dia menunjuk ke sebuah prasasti batu di bawah pohon sakura. Diukir dengan indah, dengan aksara kaligrafi yang kukenal baik:

"Zhang dan Lin, pecinta abadi, takdir yang terputus."

Aku terhuyung mundur. Aku menyadari kebenaran yang mengerikan. Cinta kami bukan cinta yang baru. Itu adalah pengulangan. Sebuah siklus. Dendamku pada korporasi, usahaku menjebol waktu, semuanya telah terjadi sebelumnya. Kami adalah sandiwara yang dimainkan berulang-ulang, tanpa akhir.

Zhang memudar. "Kita selalu saling mencari," bisiknya, suaranya semakin pelan, "tapi kita selalu... terlambat..."

Dan saat dunia di sekitarku hancur menjadi pixel dan kembali ke ketiadaan, aku mendengar pesan terakhirnya, menggantung di kehampaan:

Mungkin, lain kali... kita tidak akan saling lupakan.

You Might Also Like: Rahasia Dibalik Mimpi Membunuh Anjing

0 Comments: