Baiklah, mari kita mulai: **Judul: Aku Menyuruhmu Berhenti Menatapku, Tapi DIAM-DIAM Berharap Kau Terus Melakukannya** Dunia ini, ah, dunia ini seperti ponsel yang terjatuh dari lantai tiga: retak seribu, tapi layarnya masih menyala. Sinyal cinta kami pun begitu. Kadang *lima batang*, kadang hanya *E*, cukup untuk mengirimkan sebaris pesan merdu, lalu lenyap ditelan badai data. Aku, Aisyah, hidup di dunia yang harumnya masih kental dengan kenangan. Aroma kopi tubruk buatan nenek, bunyi gesekan gramofon, dan surat cinta yang ditulis tangan dengan tinta yang nyaris habis. Aku menyimpan fotomu, Li Wei, di dalam dompet kulit usang. Fotomu yang blur, hasil cetakan printer yang kehabisan tinta, tapi cukup untuk membuat jantungku berdebar. Kamu, Li Wei, hidup di masa depan yang berkilauan dan dingin. Gedung-gedung menjulang hingga menusuk awan, mobil terbang tanpa suara, dan cinta diukur dari jumlah *likes* di Instagram. Kamu mengirimkan pesan holografik kepadaku, sepotong senyum digital yang menembus ruang dan waktu, namun selalu berakhir dengan tulisan "sedang mengetik..." yang menggantung. "Berhenti menatapku!" tulisku dalam sebuah surat yang kubuang ke sumur tua. Aku tahu, itu bodoh. Sangat bodoh. Tapi aku *malu*. Malu karena cintaku padamu terasa seperti lagu lama yang diputar berulang-ulang, sementara kamu asyik mendengarkan *rave* di planet lain. Namun, diam-diam, di balik kelopak mata yang memerah karena air mata, aku berharap kamu terus menatap. Aku ingin mata kita bertemu, meski hanya dalam piksel-piksel yang berkedip-kedip. Aku ingin merasakan kehangatan tanganmu, meski hanya dalam sentuhan dingin layar holografik. Suatu malam, langit menolak untuk menjadi pagi. Chatmu tak kunjung tiba. Hatiku terasa seperti *buffer* yang tak pernah selesai memuat. Aku mencoba menghubungi kamu, berkali-kali. Nihil. Lalu, aku menemukan sebuah catatan tersembunyi di balik fotomu. Tulisan tanganmu, Li Wei, yang bergetar: _"Aisyah, sayangku... maafkan aku. Masa depan yang kulihat adalah masa lalu yang kau jalani. Kita terperangkap dalam putaran waktu, sebuah gema cinta yang tak pernah benar-benar terjadi. Aku tahu ini gila, tapi... kita hanyalah refleksi dari sepasang kekasih yang hilang di dimensi lain. Setiap 'sedang mengetik...' adalah jejak mereka, usaha mereka untuk saling menghubungi sebelum dunia BENAR-BENAR padam."_ Kemudian, layar ponselku mati. Listrik padam. Sunyi. Dan aku tersenyum, getir. Cinta kita memang hanyalah gema. Tapi, **gema itu terdengar begitu indah, bukan?**
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Bisnis

0 Comments: